Thursday, March 1, 2012

The Hauntingly Beautiful Venice


Kalau kamu cuma punya waktu sehari di Italia, maka datanglah ke Venezia (Venice in English), sebuah kalimat yang pernah saya baca entah dimana. Venezia yang sangat terkenal karena kecantikan dan keunikannya yang kemungkinan tidak akan bertahan selamanya, ya, sudah beberapa kali saya mendengar rumor bahwa kota ini terancam akan tenggelam, nah, oleh karena itu sebelum tenggelam dan tinggal kenangan, maka tentunya saya tidak boleh melewatkan kota yang satu ini. Namun, rumor tersebut belum saya verifikasi lebih lanjut jadi bisa jadi tidak benar juga. Tapi, karena jalurnya pas, saya menemukan ada kereta dari Ljubljana ke Venezia dan harganya cukup terjangkau, jadilah saya mampir ke kota ini walau hanya sehari.

Le Gondole
Saya hanya menjatahkan satu hari karena Venezia merupakan salah satu kota termahal di Italia yang tentunya harga penginapan pun akan sangat mahal, oleh karena itu saya memutuskan untuk sehari saja lalu sorenya saya menuju Milan untuk mengunjungi teman saya (lumayan nginep gratis). Keputusan ini sepertinya cukup tepat karena waktu sehari sepertinya memang cukup untuk mengunjungi semua yang penting di kota ini, tentunya lebih praktis juga karena bisa menitipkan tas di "deposito bagagli" di stasiun kereta.

Impressions

Venice persis seperti gambaran yang sering saya baca di buku travel, sebuah kota yang sangat cantik, unik, mesmerizing, tidak ada kota lain yang seperti ini. Jalan-jalan super kecil, kanal-kanal, gondola, bangunan tua, semua isi kota ini seakan memiliki kekuatan magis yang mampu memanjakan mata para pengunjungnya, tidak heran ada sekitar 20 juta wisatawan datang ke kota ini setiap tahunnya. Bangunan kuno di Venice berpadu dengan toko-toko modern, diantaran yang paling terkenal adalah murano glass dan topeng untuk Carnivale. Carnivale merupakan event tahunan terbesar di kota ini yang diadakan setiap bulan Februari. Banyak yang mengatakan termasuk salah satu guru les bahasa Itali saya, bahwa kita pasti akan tersesat di Venice dengan begitu banyak dan berlikunya jalanan di sana. Namun, syukur Alhamdulillah, saya tidak menyasar sama sekali di kota ini. Padahal saya orangnya benar-benar tidak berbakat dalam hal arah, ada peta saja saya bisa nyasar, bahkan beberapa kali ke tempat yang sama pun tetap nyasar juga, coba saja tanya teman-teman dekat saya. Huehehe. Tapi, sebenarnya bukannya saya jago atau gimana, tapi di Venice walaupun seperti labirin, petunjuk jalan sangat jelas, maksudnya petunjuk untuk menuju tempat-tempat yang penting dan terkenal seperti Stasiun kereta (Ferrovia), Rialto's bridge (Ponte Rialto), St. Mark's Square (Piazza San Marco), Galleria dell'Academica, Pallazo Ducale, dan lainnya. Jadi tinggal diikuti saja petunjuk berwarna kuning yang ada di tembok-tembok bangunan, dijamin kalau hanya mau ke tempat-tempat itu saja, niscaya kamu akan dijauhkan dari marabahaya tersasar.

How to get there

Saya naik kereta dari Ljubljana dini hari dan tiba di Venice sekitar jam 8 pagi di Stazione Santa Lucia, yang merupakan stasiun utama di Venice, cerita mengenai perjalanan kereta ini ada di sini. Begitu sampai saya langsung mencari tempat penitipan barang (deposito  bagagli). Cukup banyak orang yang menitipkan tas di sini, kemungkinan karena banyak yang melakukan hal yang sama dengan saya untuk one day trip di Venice.

Things to do and see

Day 1 (29 Oct 2011):

Saya begitu bersemangat akhirnya sampai juga di negara yang sudah saya idam-idamkan untuk saya kunjungi, saya sudah belajar bahasa Italia di Jakarta selama 10 bulan (2 level awal) sehingga saya sungguh tidak sabar untuk segera menguji coba kemampuan bahasa saya. Setelah 1.5 bulan berkelana di negara-negara lain akhirnya tiba juga saatnya. Ada perasaan senang yang membuncah ketika saya mengerti pengumuman yang ada di stasiun, mengerti arti petunjuk yang ada, menggunakan bahasa Itali ketika menitipkan tas dan membeli roti di kafe di stasiun. Yah, begitulah ya, kalau saya teruskan tidak akan ada habisnya.

Keluar dari stasiun saya benar-benar kaget karena tidak bisa melihat apa-apa, semuanya serba putih tertutup kabut yang sangat tebal, padahal waktu sudah menunjukkan jam 8 pagi. Saya pun lalu memutuskan untuk membeli tiket kereta ke Milan yang merupakan tujuan saya berikutnya sambil menunggu menipisnya kabut. Saya membeli tiket kereta untuk hari yang sama pukul 4.30 sore karena pilihan itulah yang termurah. Keluar dari stasiun tidak jauh dari situ ada pemberhentian angkutan air bernama vaporetto, tiketnya cukup mahal EUR 6.5 untuk single journey, namun karena saya agak bingung maka saya ambil gampangnya saja naik vaporetto. Walaupun cukup sering frekuensi lewatnya, namun vaporetto yang saya naiki begitu penuh, saya bersama puluhan penumpang lain harus berdiri berdesakan, keadaan yang mengingatkan saya pada KRL Bogor-Jakarta yang kerap saya naiki jaman kuliah dulu.

Water Taxi (Vaporetto)
Saya memutuskan turun di Ponte Rialto, salah satu dari 3 jembatan yang melintasai Grand Canal, dua lainnya adalah jembatan di dekat stasiun kereta dan di dekat Galleria Accademia. Pada saat itu saya hanya bermodalkan peta Venice dari buku Lonely Planet yang saya sobek untuk memudahkan membawanya. Petanya kecil dan tidak terlalu jelas, namun terbukti sangat berguna. Saya beruntung bisa merasakan kota ini di kala masih sepi, saat itu restoran dan toko-toko di sekitar Ponte Rialto masih tutup, pengunjung juga baru segelintir saja. Aktifitas yang sudah dilakukan adalah distribusi bahan-bahan makanan yang kemungkinan besar untuk restoran yang ada. Saat itu kabut masih membayangi kota walaupun presentasinya sudah berkurang. Saya naik ke Ponte Rialto dan berdiam diri selama beberapa menit untuk menikmati pemandangan dan suasana yang ada. Suasanya begitu surreal dan magical, tenang, sepi, kabut, kanal besar, bangunan-bangunan tua nan cantik, gondola-gondola yang masih diparkir di pinggir canal. Saat inilah cantiknya kota ini benar-benar terlihat.

View from Ponte Rialto (pagi hari)
Ponte Rialto (siang hari)
Small Canal
Selanjutnya saya berjalan menuju alun-alun utama kota ini, Piazza San Marco. Berbekal peta kecil saya memasuki salah satu gang di dekat Ponte Rialto yang syukurnya ada petunjuk jalan bahwa itu jalan tersubut mengarah ke Piazza San Marco. Dengan begitu banyaknya jalan kecil bagaikan labirin, hanya jalan-jalan besar saja yang tertera namanya di peta, namun dengan mengikuti petunjuk jalan sekitar 10 menit kemudian saya sampai di Piazza San Marco. Karena masih pagi belum terlalu ramai, namun saat itu matahari belum bersinar terang. Toko-toko, restoran dan cafe juga belum buka. Hanya ada beberapa penjual cinderamata. Setelah mengambil beberapa gambar saya berjalan menuju pusat informasi turis yang ada di dekat situ, bermaksud untuk mengambil peta gratisan atau brosur yang ada. Namun peta kota-nya tidak gratis, harganya EUR 2.5, wuih lumayan bener ya, saya pun tetap setia pada peta kecil saya.

Saya di Piazza San Marco
Begitu sampai di Piazza ini, kita akan langsung dapat melihat beberapa bangunan eye-catching yaitu sebuah Basilica San Marco sebuah gereja megah dengan arsitektur Byzantine dengan beberapa kubah berwarna biru dan warna emas yang mendominasi. Satu bangunan lain adalah tower bell (campanile) berwarna bata yang menjulang tinggi 99 meter dengan bentuk limas di atasnya. Ada satu bangunan menarik lagi yaitu click tower (Torre dell'Orologio) yang berada di sebelah kiri Basilica.

Basilica San Marco
Campanile
Torre del'Orologio

Saya melihat sudah ada antrian cukup panjang untuk masuk ke dalam Basilica, tentunya karena gratisan semua orang pasti tidak akan melewatkannya. Saya pun ikut mengantri, namun antrian berjalan cukup cepat, tidak sampai 10 menit saya sudah berada di dalam gereja. Sampai saat itu mungkin sudah belasan gereja saya masuki, namun gereja ini mempunyai keunikan tersendiri yaitu warna emas yang sangat mendominasi memberikan kesan mewah pada gereja ini. Ada peraturan tidak boleh mengambil gambar di dalam gereja, namun saya melihat banyak pengunjung yang tidak mematuhi, baik itu yang diam-diam memotret maupun yang secara vulgar. Saya sendiri termasuk yang diam-diam memfoto sehingga tidak terlalu banyak foto yang saya ambil. Biar bagaimanapun saya berusaha menghargai peraturan yang ada (walau tetap dilanggar juga.. hehe).
Antrian masuk Basilica San Marco
Inside Basilica San Marco
 Keluar dari Basilica saya berjalan terus ke arah kanan menyusuri grand canal sampai ke palazzo ducale dimana terdapat museum dan pusat perbelanjaan. Saya berjalan terus melewati Ponte dei Sospiri dan pada saat itu keadaan sudah mulai ramai, penjual cinderamata sudah bermunculan. Beberapa gondola sudah mulai beroperasi. Hampir semua orang yang tahu saya ke Venice mengajukan pertanyaan apakah saya naik gondola, dan jawabannya sayang sekali tidak. Harga naik gondola mulai dari EUR 80 untuk rute pendek (tidak melalui grand canal) dan EUR 120 untuk rute yang melewati grand canal. Selain karena mahal, saya juga melihat kebanyakan yang naik gondola adalah turis-turis asia, well, sejujurnya karena mahal sih.

Suvenir
Palazzo Ducale
Parkir Gondola

Saya lalu berjalan-jalan asal saja, menyusuri kota Venice yang cantik dan meresapi pemandangan yang ada, mulai lapar saya pun mencari tempat makan, saya menemukan sebuah restoran yang letaknya di dalam gang namun cukup bagus, saking senangnya bisa menggunakan bahasa itali ketika memesan makanan dan meminta bill, saya sampai memberikan tip lho. Hahaha.

My first pasta in Italy

Saya kembali lagi ke Piazza San Marco dan saat itu sudah sangat ramai dengan turis, dan juga burung merpati yang gendut-gendut. Cafe outdoor pun sudah buka dengan harga makanan yang sangat fantastis, kala itu matahari juga sudah bersinar terang. Eh, tapi ternyata Piazza San Maco sudah digenangi air, tidak terlalu tinggi sih tapi lumayan becek lah. Ternyata ada banjir juga di sini, bisa dimaklumi lah dengan ratusan kanal yang ada di Venice.

Outdoor cafe at Piazza San Marco
Small flood in Piazza San Marco
Saya lalu berjalan kembali ke Ponte Rialto yang sudah sangat padat dengan manusia, jujur saja, saya lebih suka Venice di pagi hari yang sepi dibanding di siang hari ini. Orang-orang berdesakan di atas Ponte Rialto bahkan untuk naik ke atas jembatan saja susahnya minta ampun. Apalagi mau foto-foto dan menikmati pemandangan, oh, betapa kangennya dengan suasana sepi pagi tadi, walau banyak kabut tapi jauh lebih menyenangkan. Gak kebayang gimana kalau pas summer yah, di bulan oktober akhir saja penuhnya kaya gitu. Saya pun lalu duduk di sekitar situ di pinggiran grand canal sambil melihat dan memperhatikan orang-orang.

Outdoor Cafe near Ponte Rialto
Saat itu batere kamera saya sudah habis jadi saya pun memutuskan untuk berjalan kembali ke stasiun kereta karena sudah mulai sore. Perjalanan kembali ini tidak terlalu sulit, saya hanya perlu melihat petunjuk jalan yang menuju ke "Ferrovia". Di perjalanan balik ini saya banyak menemukan toko-toko suvenir dengan harga yang murah dibandingkan yang di tengah tourist attraction, seperti topeng-topeng karnaval dijual mulai dari EUR 4. Tapi mungkin memang 'made in china' but, who cares? Hehe. Saya lihat kalau di toko-toko yang bagus yang menjual topeng-topeng ini banyak terdapat tulisan 'made in Italy' dan 'not made in China'. Sampe segitunya ya mereka. Di sini juga banyak sekali toko-toko di pinggir jalan, mulai dari toko fashion, supermarket, sampai bahan-bahan makanan.

Topeng Karnaval
Topeng di toko mahal
Setelah makan sekali lagi di kedai Pizza saya sampai di stasiun, namun karena masih ada beberapa waktu sampai kereta saya berangkat saya menunggu di piazza di depan stasiun dan duduk di pinggir  kanal sampai hampir ketiduran. Sekitar setengah jam dari waktu keberangkatan saya menuju stasiun untuk mengambil titipan backpack dan tas saya lalu bersiap-siap naik kereta ke Milan.

Budget and other tips

* Dari stasiun kereta cara paling asik dan hemat adalah dengan berjalan kaki, karena satu-satunya transport adalah naik taksi air (vaparetto) dengan tarif EUR 6.5 single journey. Ponte Rialto bisa dicapai dengan berjalan kaki sekitar 30-40 menit, dengan pemandangan kota Venice yang cantik dijamin tidak akan capek.
* Jika mencari restoran tempat makan hindari tempat yang dekat dengan tourist attraction (Ponte Rialto, Piazza San Marco) karena harga bisa melambung 2 kali lipat, contoh nyata pasta di Piazza San Marco bisa EUR 14 kalau di dalam gang EUR 7, well masih mahal juga sih.
* Kalau mau irit jangan makan di restoran, selain lebih mahal, biasanya ada cover charge (coperto) sebesar EUR 1-2 per orang. Lebih hemat beli pizza di pizzeria, EUR 2 sudah dapat 1 slice pizza besar.
* Sebagai kota termahal kalau mau irit bisa One day trip saja karena penginapannya cukup mahal.
* Atraksi gratis yang sangat worth-it yaitu masuk ke Basilica San Marco.
* Beli suvenir (magnet, topeng, dll) jangan di yang dekat tourist attractions, carilah yang agak jauh, harga bisa sangat murah, magnet bisa dapat EUR 1.
* Jangan lupa mem-validate tiket kereta, jadi kalau beli tiket kereta di Italy biasanya tiketnya open, bisa dipakai sampe 2 bulan, tapi hanya bisa dipake sekali, makanya pas kita pakai harus di validate di mesin warna kuning yang ada di stasiun, biasanya ada di dekat peron. Maksudnya divalidate adalah akan tercetak tanggal dan jamnya untuk menandakan kalau tiket sudah dipakai, hanya tiket yang sudah divalidate saja yang berlaku dan valid. Jika ada pemeriksaan dan tiket belum divalidate maka jatuhnya sama saja seperti belum tidak punya tiket dan akan terkena denda puluhan euro. Waktu saya naik kereta dari Venice ke Milan, yang merupakan pengalaman pertama naik kereta di Italia, saya tidak aware akan proses ini, saya baru sadar ketika sudah ada di dalam kereta ketika saya membaca keterangan yang ada di tiket, namun saya tidak bisa turun lagi karena takutnya kereta akan berangkat dan barang saya juga banyak, pasti repot jadinya. Saya pun semakin menyadari kalau validate tiket itu penting ketika ada 2 orang cewe yang duduk di sebelah saya bertanya apakah saya sudah validate atau belum karena mereka belum validate karena mereka bilang mesinnya rusak dan saya sudah berencana akan beralasan seperti mereka jika ada pemeriksaan, namun untungnya ternyata tidak ada pemeriksaan.

Actual expense

1. Luggage Storage (2 bags, 8 hours): EUR 12.8
2. Inter city transport (vaporetto): EUR 6.5
3. Meal (2x): EUR 15.5
TOTAL: EUR 34.8

Soal biaya lumayan lah dengan predikat Venice sebagai salah satu kota termahal, saya sempat makan di restoran yang agak bagusan makanya makannya agak mahal, masih bisa diirit 30% lah, untuk vaporetto juga sebenarnya tidak perlu (lebih enak jalan kaki), dan biaya penyimpanan bisa dihemat setengahnya kalau hanya 1 tas, saya waktu itu sudah malas repot membereskan tas supaya cukup masuk ke 1 backpack, jadi bayar 2 tas. 

4 comments:

Fitri Ananda said...

Terimakasih mbak infonya :)

Fitri Ananda said...

Terimakasih mbak infonya :)

kausar said...

mbak, boleh tau kalo biaya perjalanan dari indo ga?
kalo boleh ke hadi.kausar@gmail.com

Niantiaulia said...

Hi Kausar
untuk biaya perjalanan sudah ada di postingan saya yang "Before Eurotrip" dan di postingan di masing2 negara/kota. Coba di cek di situ saja dulu yah..