Thursday, March 8, 2012

Milan, Love it or Hate it?


Alasan utama saya ke Milan tentunya untuk mengunjungi teman les bahasa saya Jessica yang tinggal di Milan, seperti yang sudah saya bahas di tulisan saya sebelumnya, as solo traveler, it always nice to have company, selain itu kebetulan saya juga menitipkan beberapa euro di Jessica karena waktu itu takutnya gak bisa ambil uang di ATM (ternyata bisa banget!). Selain itu tentunya saya penasaran dengan gereja gothik termegah yaitu Il Duomo Milano yang bentuknya sangat unik dan berbeda dengan gothik lainnya. Duomo sendiri berarti Kathedral atau sebuah gereja besar dalam bahasa itali, jadi basically di setiap kota pasti mempunyai duomo masing-masing, namun ketika kita menyebutkan "Duomo" saja, otomatis kata tersebut mengacu pada duomo yang ada di Milan. Saya juga sedikit berharap bisa mengunjungi stadion sepak bola San Siro yang merupakan tempat sakral yang wajib dikunjungi oleh Milanisti. Saya sendiri bukan penggemar kesebelasan AC Milan ataupun Inter, saya suka sepak bola dan alasan itu cukup untuk membuat saya mengunjungi salah satu stadion bola terpopuler di Eropa.


Il Duomo Milano

Impressions

Milan mungkin salah satu kota paling modern di Itali, sangat identik dengan fashion dan mode. Sebuah kota besar metropolitan. Banyak yang memuja-muja Milan, namun tidak sedikit juga yang membencinya, beberapa orang Itali yang bukan berasal dari Milan bahkan merasa bahwa Milan bukanlah bagian dari Itali karena begitu berbedanya dengan kota lain. Seperti yang kita harapkan dari kota mode, butik-butik merk ternama ada di sini, namun demikian masih terdapat bangunan-bangunan tua yang masih terjaga dengan baik, seperti Duomo dan Castello. Tourist attraction di Milan agak berbeda dengan di kota-kota Itali pada umumnya yang mengandalkan kota tua dan bangunan kuno, sehingga mungkin tidak terlalu seperti kota turis, tapi untuk saya, jika saya harus memilih salah satu kota di Itali untuk ditinggali (untuk sekolah atau bekerja) dalam jangka waktu lama, maka saya akan memilih Milan, karena kotanya besar, dinamis, modern, tidak akan mati gaya di kota ini, sarana transportasi juga sangat baik, selain itu kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan (mungkin) lebih besar. Kalau untuk berkunjung sebagai turis mungkin waktu 2 hari sudah cukup untuk melihat berbagai hal menarik di sini. Ketika saya di sana selama kira-kira 3 hari untungnya cuaca sedang sangat bersahabat, matahari masih bersinar, suhunya juga lumayan, saya bahkan hanya menggunakan jaket tipis, tidak perlu pakai coat. Menurut Jessica minggu sebelumnya cuaca sudah mulai dingin, wow, saya bersyukur sekali bisa merasakan Milan dengan cuaca cerah dan relatif hangat.

Saya di depan Duomo

How to get there and accommodation

Saya naik kereta dari Venice ke Milan, lama perjalanan sekitar sekitar 4 jam, tapi kenyataannya lebih lama, sekitar 4.5 jam atau 5 jam turun di stasiun utama kota Milan, Milano Centrale. Begitulah kereta di Itali, tidak selalu setepat waktu negara-negara eropa lainnya, seperti Belanda atau Jerman misalnya. Di Milan senangnya ada yang mau menampung saya yaitu teman saya Jessica , dia sudah memberi saya petunjuk bagaimana cara ke apartmentnya dengan metro, nama tempatnya corso lodi 83, caranya cukup mudah, dari stasiun kereta saya hanya perlu mencari tanda metro lalu mengikuti petunjuk jalan, saya naik metro yellow line turun di Brenta stop, lalu dengan berjalan kaki tidak sampai 2 menit sudah terlihat tempatnya, kali ini tidak pakai bingung maupun nyasar, tempatnya sangat strategis, dekat sekali dengan metro station. Apartemennya juga sangat nyaman dan aman. Di apartementnya ada 2 kamar jadi sharing kamar mandi, dan dapur, dia tinggal bersama temannya dari Indonesia juga yang sedang kuliah di Milan juga bernama Krista. Malam hari itu saya gunakan untuk mengobrol dan makan malam (pake indomie) dan beristirahat dengan baik. Saya menginap 3 malam di sana yang ternyata lumayan banget, later on saya baru mengetahui harga hostel di Milan cukup mahal, sekitar 30 euro-an. I was so lucky!

My friend Jessica, my host as well (grazie bella!)
Things to do and see

Day 1 (30 Oct 2011):

Sebelum pergi beraktifitas, kami sarapan dahulu di apartemen Jessica, hari itu hari minggu dan saya berencana menghabiskannya dengan Jessica dan teman-temannya yang kebanyakan orang Indonesia juga. Siang itu Jessica dan Krista ada janji maka siang dengan salah satu temannya, Maria yang hari itu sedang berulang tahun, jadi ceritanya mereka mau ditraktir jadi saya pun tidak ikutan. Kami pergi bersama ke Piazza Duomo lalu sementara mereka makan siang saya berjalan-jalan sendiri di sekitar situ. Saya pun masuk ke dalam duomo, gratis namun agak antri. Dalam duomo menurut saya tidak terlalu spesial, saya lebih suka penampakan luar duomo yang megah, dalamnya seperti gereja pada umumnya, bernuansa suram, gelap, seperti gereja gothik lainnya.

Duomo
Inside the Duomo
Setelah dari duomo saya memasuki bangunan megah di sampingnya yaitu Galleria Vittorio Emanuele II, Vittorio Emanuele merupakan nama salah satu raja di Italy, tempat ini merupakan pusat perbelanjaan khusus barang-barang mewah dan bermerk yang menjual pakaian, tas, sepatu, aksesoris, perhiasan, dan lainnya, oh ada juga toko resmi pernak-pernik sepak bola di sini. Semua bisa ditemukan di sepanjang gedung ini. Selain toko-toko terdapat juga deretan restoran dan kafe yang pastinya mahal juga, satu-satunya yang agak terjangkau mungkin McD tapi setelah saya cek pun harga McD-nya lebih mahal dari pada di negara Eropa lainnya. Selama di eropa saya hobi sekali makan di McD karena sekalian bisa wifi-an, tapi somehow pas sampe Itali saya tidak tertarik makan di McD, mungkin karena makanan di Itali terkenal enak-enak makan saya merasa gak rela makan McD.




Galleria Vittorio Emanuele II (outside)


Inside Galleria Vittorio Emanuele II
Setelah makan sandwich saya pun bertemu lagi dengan Jessica dan kawan-kawan, kami berencana ke sebuah bazaar di daerah Navigli. Sebelumnya saya mau mencoba dulu gelato yang direkomendasikan oleh Jessica, tempatnya ada di sekitar Duomo juga, di belakang Galleria Vittorio Emanuele, nama tempatnya 'cioccolatitaliani' yang terlihat cukup rama. Saya pesan es krim rasa coklat dan pistachio dengan cone coklat kacang dan di dasar cone dtambahkan coklat dahulu sebelumnya. Mmmmmm, yummy sekali pemirsa! Harganya es krim yang saya makan EUR 4.5, tapi menurut saya sangat worth it karena sangat enak dan porsinya lumayan banyak. Harganya bisa lebih murah tergantung ukuran dan jenis cone yang kita mau.

Il Gelato piu buono nel mondo
Kami lalu jalan bareng ke sebuah bazar barang bekas dan barang antik tersebut, kami naik tram untuk menuju ke sana. Pasar ini sepertinya hanya ada ketika weekend dan sangat luas ada di sepanjang jalan di pinggiran sungai. Barang-barangnya kebanyakan barang kuno dan vintage, namun harganya luar biasa mahalnya. Saya sendiri bukan penggemar barang-barang seperti itu jadi cukuplah melihat-lihat saja sambil berpikir siapa juga yang mau membeli semahal itu.

Vintage Market
 Setelah melihat-lihat kami pun mampir ke sebuah kedai crepe di dekat situ yang terlihat penuh dan antriannya lumayan, asumsinya kalau ramai itu tandanya makanannya enak. Ya, makan lagi deh. Hehehe. Saya memesan crepe dengan gula dan mentega (zucchero e burro), ini merupakan crepe yang paling simple. Oh iya crepe disini adonannya lembut dan tidak krispi, jadi lebih mirip pancake sepertinya, pancake yang tipis dengan pilihan berbagai topping mulai dari gula, mentega, coklat nutella, selai, buah-buahan, cinnamon, es krim dan lainnya. Menurut saya rasanya lumayan enak tapi tidak terlalu spektakuler sih.

Krista, Maria, Saya, Jessica di tempat crepes

Crepe Butter and Sugar
Kami lalu kembali ke Duomo, rencananya saya mau coba melihat-lihat sepatu boots, kalau-kalau ada yang murah saya mungkin akan membeli. Kebetulan Krista juga lagi mencari boots. Berdasarkan info dari Jessica ada sebuah toko sepatu yang menjual seharga EUR 30 untuk semua jenis barang. Dia sendri sudah membeli di sana dan menurut saya untuk harga segitu, bootsnya benar-benar bagus. Malam itu akhirnya kami habiskan dengan window shopping, keluar masuk toko, sambil sedikit berbelanja juga, lumayan, sudah lama saya tidak melakukan ini. Saya tidak jadi membeli boots malah membeli barang lain yaitu topi (yang sebenarnya sudah punya banyak).

Fernanda, Jacqueline, Saya  dan Jessica di toko sepatu serba EUR 30
 Malam itu saya, Jessica, dan Krista berencana untuk makan di restoran yang direkomendasikan sama Jessica karena pizza-nya yang enak. Kebetulan restoran ini dekat dengan apartemen Jessica jadi bisa berjalan kaki. Restoran ini bernama "Timeout 2", penampakannya sih seperti nice restaurant. Ada pengalaman tidak menyenangkan di restoran ini. Begini ceritanya, kami memesan pizza salmon (1 porsi) dan air mineral. Pelayan yang mencatat pesanan kami merasa terkejut karena kami memesan 1 pizza untuk bertiga, memandang kami seolah-olah kami makhluk asing atau semacamnya. Berulang-ulang dia bertanya: "Hmm, jadi 1 pizza untuk 3 orang ya?" Kami tahu di Itali biasanya orang memesan 1 porsi pizza untuk dimakan 1 orang, namun pada saat itu kami sudah merasa agak kenyang, satu pizza ada 8 slice plus masih ada appetizernya, menurut kami itu sudah cukup, bukannya kami pelit atau gak mampu ya. Perilaku pelayan ini benar-benar menyebalkan, dia pun bergunjing kepada teman-temannya bahwa kita pesan pizza 1 porsi untuk 3 orang. Pelayan lain yang mengantarkan kami pun ikut-ikutan bertanya, "ini pesanannya, 1 pizza untuk bertiga" iiihhhh penting ya harus diulang-ulang kalimat itu. Kami bertiga pun semakin bete saja, boro-boro deh mau pesen yang lain, yang ada pengen cepet-cepet pergi dari situ. Bahkan menurut Jessica (entah benar atau karena terpengaruh emosi) pizzanya agak berbeda dengan yang biasa dia makan, seperti ikannya kurang banyak dan kurang matang. Ya, semua itu cukup membuat Jessica tidak mau makan di situ lagi. Yeah, you just lost 1 customer!

Salmon Pizza

Day 2 (31 Oct 2011):

Agenda saya hari ini ke San Siro (Giuseppe Meazza), stadion bola utama di Milan untuk dua klub besarnya AC Milan dan Inter Milan. Sebenernya tadinya niat mau melihat lukisan the last supper yang terkenal itu, namun saya urungkan karena ternyata agak susah kalau belum booking terlebih dahulu. Hari ini Jessica harus kuliah dulu sehingga saya jalan sendiri pagi harinya dan janjian siang hari setelah dia selesai kuliah. Saya memulai hari dengan berkunjung ke Duomo terlebih dahulu untuk minum kopi sambil wifi-an mencari tahu cara menuju San Siro. Berdasarkan info di internet (klik di sini), saya bisa naik tram no. 16 dari Piazza Fontana (Duomo) jurusan Via Dessie, turun di San Siro stop. Sepertinya cara yang mudah namun saya tidak kunjung menemukan tram stop yang dilalui tram no. 16 walaupun saya sudah mencari-cari di sekitar situ. Akhirnya saya memilih alternatif yang lebih mudah dengan metro. Metro red line turun di stasiun Lotto lalu berjalan kaki di via Caprilli sampai ketemu stadionnya. Lama berjalan kaki sekitar 40 menit, agak jauh sih tapi itu cara paling gampang daripada nyasar naik bus atau tram. Harga tiket masuk adalah EUR 12.5 termasuk mengunjungi museum dan tour di dalam stadionnya. Satu-satunya cara untuk bisa masuk ke dalam stadion ya dengan ikut tour ini. Harga ini masih cukup acceptable lah, kira-kira setengahnya dari harga masuk Camp Nou di Barcelona. Lama tour sekitar 1 jam dengan peserta sekitar 30-40 orang, tour dibawakan dalam 2 bahasa Italia dan Inggris, jika saya perhatikan sebagian besar pengunjung adalah wisatawan lokal. Somehow ketika tour guide menjelaskan dengan bahasa Italia saya bisa memahaminya, lumayan lah saya tidak perlu menunggu untuk mendengarkan versi Inggrisnya lagi melainkan saya bisa mulai berfoto-foto di stadionnya.

San Siro Stadio
Tour dimulai dengan memasuki stadionnya, namun kami hanya bisa berkeliaran di salah satu sisi dari tempat duduk saja, tour guide menjelaskan sejarah dari stadion ini termasuk pembagian tempat duduk untuk penonton. Walaupun saya bukan penggila dua klub ini, tetap saja ada perasaan gimana gitu bisa berada di stadion ini tempat para bintang sepak bola dunia bertanding, agak merinding gitu rasanya. Berikutnya kami masuk ke ruang ganti Inter dan AC Milan, dengan begitu banyaknya peserta tur membuat ruangan tersebut menjadi sempit dan agak penuh sesak dengan orang, dimana kegiatan utama setiap orang adalah berfoto dengan berbagai gaya. Agak sulit juga mendapatkan foto yang bagus karena begitu banyaknya orang. Kami juga diajak berkeliling dan masuk ke ruangan dimana tamu-tamu VIP masuk dan ruangan dimana event seperti konferensi pers atau perjamuan makan diadakan. Selesai tur saya masih berkeliling museum dahulu. Di musem ini terdapat berbagai memorabilia (kaos, tiket pertandingan, majalah, dan lainnya) dari kedua team dari masa ke masa, begitu juga segala macam penghargaan dan piala yang pernah mereka dapat. Saya pun tak lupa berkunjung ke toko-nya yang cenderung kecil jika saya bandingkan dengan store di Barcelona.
San Siro Stadio
Pulang dari sini ketika berjalan keluar saya melihat sebuah bis bernomor 16, berdasarkan papan yang ada di halte jika saya naik bis itu saya bisa sampai ke Duomo, maka saya pikir daripada saya harus berjalan 40 menit lagi. Bus sudah berjalann sekitar 10 menit dan saat itulah saya merasakan keanehan, beberapa calon penumpang bertanya kepada supir bus sebelum naik apakah bus ini menuju ke San Siro, dan supir bus mengiyakan pertanyaan tersebut. Saya pun bingung, bagaimana mungkin kita akan ke San Siro sementara saya naik dari sana? Saya pun mulai memperhatikan jalanan dan sepertinya memang saya sudah pernah melewati jalan itu. Hmmmm, saya pun lalu memutuskan untuk turun dari bus. Saya berasumsi mungkin ada jenis bus yang rute-nya loop bukan garis lurus sehingga akan kembali lagi ke San Siro. Saya sempat mencoba naik bus sampai beberapa kali tapi tidak juga ada tanda-tanda berjalan ke arah yang benar, sehingga selama sekitar setengah jam lebih saya hanya berputar-putar di sekitar situ saja. Akhirnya saya memutuskan untuk naik bus ke stasiun metro terdekat, saya melihat nomor bus di papan dan rutenya, saya melihat bus mana yang akan berhenti di metro stop terdekat. Cara ini cukup efektif karena akhirnya saya bisa sampai juga ke Duomo.

Masih ada waktu beberapa jam sebelum waktu saya janjian dengan Jessica, maka saya pun mengunjungi Castello Sforzesco sebuah kawasan kastil kuno dan taman kota yang cukup luas.

Castello

Setelah berkeliling saya pun kembali Duomo untuk ketemuan sama Jessica. Kami janjian di sebuah kedai makanan beken di Milan bernama Luini Panzerotti. Sampai sana saya sudah melihat antrian yang lumayan panjang, dengan sigap saya langsung mengantri sambil mengirimkan pesan ke Jessica. Luini ini memang selalu penuh dan antre setiap jam makan siang. Menu mereka hanya satu, Panzerotti, yaitu calzone dengan berbagai isi seperti daging, ham, mozzarela, tomat, dan lainnya. Selain yang asin ada juga pilihan Panzerotti manis dengan pilihan isi coklat, strawberi dan lainnya. Pada saat antri jujur saja saya tidak tahu apakah yang dijual si Luini ini karena langsung cepat-cepat mengambil antrian. Tidak lama kemudian Jessica dan salah satu temannya asal Brazil bernama Fernanda. Setelah beberapa menit petugas kedai memberikan pengumuman bahwa mereka akan tutup jam 3 sore, saat itu kira-kira jam menunjukkan jam 3 kurang 20, namun karena antrian kita sudah agak di depan, kami yakin pasti akan kebagian. Sementara itu antrian di belakang kami pun masih panjang, dan sudah pasti akan banyak yang kecewa karena mereka tutup jam 3. Sebagian besar restoran di Italia memang mempunyai siklus seperti ini, mereka akan buka pada saat jam makan siang, kemudian akan tutup sekitar jam 3, lalu akan buka lagi ketika makan malam sekitar jam 7 atau 8 malam. Pelayanannya menurut saya sangat cepat dan efisien, jadi antrian itu benar-benar karena banyaknya pelanggan bukan mereka yang lelet. Ketika sampai giliran kami memesan ternyata hanya tersisa tomato mozzarella yang kebetulan pas sekali untuk saya karena saya yakin tidak ada daging yang halal di situ. Saya memesan itu dan juga memesan yang manis karena tidak mau rugi sudah mengantri sekitar setengah jam lebih. Harganya cukup reasonable sekitar EUR 2. Lalu, bagaimanakah dengan rasanya? Sangat enak sekali, lamanya antrian tidak sebanding deh dengan rasanya, terutama yang asin ya, apalagi kalau dimakan panas-panas. Adonan rotinya yang crunchy di luar tapi lembut di dalam, so yummy! Salah satu yang wajib dicoba kalau di Milan. Berikut review Luini Panzerotti di Trip advisor (Luini).

Antrian Luini

Tomato Mozzarella Panzerotti
Sisa hari itu kami habiskan dengan membeli tiket kereta ke Torino (Jessica dan temannya) dan tiket bus ke Siena (saya) ke Milano Centrale. Setelah itu tidak lupa saya membeli sim card Italia supaya bisa berlangganan paket blackberry sehingga tidak perlu ketergantungan sama wifi. Salah satu keunggulan lain dari apartemen Jessica adalah tepat di sebelah gedung apartment terdapat toko sim card. Oke banget kan? Saya membeli kartu baru seharga EUR 10, termasuk paket blackberry unlimited gratis untuk 1 bulan pertama (pas bener karena saya hanya sebulan di Italy) dan pulsa dengan jumlah tertentu (saya tidak ingat tapi yang pasti cukup dipakai hampir sebulan di Itali). Malamnya saya dan Jessica makan salah satu chinese restaurant bernama Hongkong Ristorante. Saya yang sudah lama tidak makan makanan asia pun sangat puas dan senang sekali bisa makan di sini, kami pun memesan sekitar 3 menu makanan dan semuanya enak. Harganya lumayan lah untuk porsi kami yang besar, dan tak lupa ada cover charge (coperto) setiap makan di restoran di Itali sekitar EUR 1-2 per orang. Selesai makan kami kembal lagi ke Duomo karena saya penasaran ingin melihat stained-glass Duomo menyala di malam hari, namun ini tidak setiap hari, makanya saya mau mencoba keberuntungan saya, ternyata saya cukup beruntung malam itu semua jendela Duomo diterangi lampu dari dalam sehingga terlihat berwarna-warni dan sangat cantik. Pas sekali untuk malam terakhir saya di Milan.

Manzo Noodle
Hot and spicy beef
Fish something
Light on the stained-glassed window of Duomo
Duomo lights-on
Beautifully lit Duomo
Budget and other tips

* Beli tiket metro harian lebih murah, single journey EUR 1.5, harian EUR 4.5, be wise saja, kalau mau pakai sehari lebih dari 3 kali lebih baik beli daily tiket, beli di tabacchi, nama tiket harian adalah Giornaliero.
* Boleh dicoba naik ke atas Duomo, bayar sekitar EUR 4 tapi worth the view
* Ketika di Piazza depan duomo, berhati-hati dengan para imigran yang berusaha memberikan dan memakaikan gelang, mereka akan biilang "it's for good luck" tapi ketika sudah dipakai mereka akan meminta uang, modus lain biasanya memberikan makanan burung supana burung-burung menghampiri kita setelah kita berfoto bersama burung-burung tersebut mereka akan meminta kita membayar sejumlah uang.
* Kalau mau melihat lukisan the last supper yang terkenal itu harus booking dulu beberapa bulan sebelumnya, untuk informasi lebih lanjut bisa dilihat di sini. Bisa saja kalaau mau go show kadang masih bisa dapet tapi jangan berharap terlalu banyak.
* A must try di Milan adalah jajan di Luini Panzerotti, enak, murah, watch out for the queue during lunch hour, lokasi dekat Duomo. Untuk gelato bisa coba di "Cioccolatitaliani" salah satu gelato terenak yang pernah saya rasakan, harga bervariasi (EUR 3-5) lokasinya pas sekali di depan Luini.

Actual expense

1. Inter city transport (3 hari): EUR 10.5
2. Meal: EUR 33.9
3. Signtseeing (San Siro): EUR 12.5
4. Sim card Italia: EUR 10, pulasanya cukup untuk dipakai selama sebulan di Italy
TOTAL: EUR 66.9

Biaya agak besar di makanan karena saya banyak jajan di sini karena bareng temen juga, tapi bisa dicompensate dengan free accommodation.

Last but not least, saya mau mengucapkan terima kasih banyak untuk Jessica udah jadi host yang oke banget, selain tebengan 3 malam di apartemennya yang cozy dan strategis, dia juga sudah merekomendasikan makanan dan jajanan yang enak-enak di Milan, pokoknya selama di Milan, makanan semua terjamin enaknya. Trus udah boleh tag along bareng temen-temennya, nganterin beli ini itu, dan nemenin jalan-jalan. Hihihi. Pokoknya ci vediamo un giorno deh!

14 comments:

jezzilla said...

bagus banget.. sangat inspiratif dan detail.. hahaha.. inget banget smuanya yah niann... btw follow my blog yahh.. :)

www.jezzilla.blogspot.com

Niantiaulia said...

Hahaha, lumayan masih inget, sebenernya g udah buat draft dulu sebelum mulai nulis, supayan poin2 pentingnya ga lupa :D Eh, btw, g baru baca di blog lo ada yang pas g dateng juga yak, hahaha, sama gitu ceritanya.

Anonymous said...

What a story... Hi Nia, saya tondy, berencana mau ke Milan juga minggu depan selama 1 minggu. Sekarang lagi mikirin simcard local yang terjangkau utk kebutuhan data internet. Boleh minta sarannya waktu di italy kemarin kamu pakai simcard apa?

Terimakasih ya.
email saya di tondicky@yahoo.com

Niantiaulia said...

Hi Tondy,
Waktu itu saya pake TIM karena lumayan ada gratis paket bb sebulan, tapi banyak juga yang pake Wind sih, karena bs gratisan nelp ke sesama wind.

citra said...

toko serba Eur30-nya menggoda sekali :D namanya apa ya? di daerah apa?

citra said...

oh btw, saya juga ada rencana ke Barcelona dan mau ke Parc Guell. boleh minta info jalan pintasnya? thx before Nianti :)

Niantiaulia said...

Hi Citra,
toko sepatunya lupa namanya.. ada di deket Duomo, kalo dari arah duomo ada di seberang duomo sebelah kiri, di situ banyak pertokoan, ada H&M, dll, telusurin aja jalan itu :)

Niantiaulia said...

Hi Citra,
Baru liat pertanyaan tentang Parc Guell, aku jawab di postingan Barcelona aja ya ;)

Anonymous said...

Hi Kak,

Nice post niih. Aku mo tanya dong kak. Aku ada rencana nih kuliah ke milan. Menurut kakak untuk ditinggalin milan enak ga sih? Orang"nya ramah" ga?
Aku jg mau tanya, di italia daerah mana sih yang paling enak untuk ditinggalin?

Thanks

Niantiaulia said...

Hai!
Kalo menurut aku sih Milah memang oke untuk long term stay (e.g. kuliah, kerja) karena kota besar dan modern, jadi ga bosen, pengalaman aku pernah tinggal di Siena (kota tua, medieval) selama 1 bulan, masih oke sih, tapi kalo lebih lama kayanya bakalan bosen juga..kalo mau tanya tetang Milan, bisa tanya temen aku Jezzila tuh (yg komen di sini juga ;p)

Akuntansi Kelas Karyawan said...

hai nian, gw pernah kesitu 2 kali dan ada pengalaman ga enak yaitu gw kena denda 53 Euro gara-2 mesin train waktu itu error sehingga tiket gw ga kebaca sensor... dan waktu pertama kali kesitu 2009 gw melakukan gerakan memutar di Galleria Vittorio Emanuele I yang tengah-2 ada lubang kecil yang konon katanya klo naro tumit disitu trs muter 180 derajat dengan 1 kaki akan balik.. alhasil gw kembali ke milan di 2011......blognya bagus nian.. kapan-2 ke eropa bareng bisa kali.. hehehhehe

Raniasari said...

Terima kasih info nya. Boleh saya bertanya sesuatu..toko sepatu boots murah (EURO 30 all item) yg ada di dekat Duomo, apa nama toko sepatu nya ya? Tks.

Niantiaulia said...

Hi Rania,
Saya tidak ingat nama tokonya, kalo dari arah duomo ada di seberang duomo sebelah kiri, di situ banyak pertokoan, ada H&M, dll, telusurin aja jalan itu :) --> ini sebnernya copas comment di atas juga sih, hehe

Rental Travel Wifi Luar Negeri said...

wah pada seneng ke luar negeri ya ka. ka kalo ke luar negeri coba deh produk baru kita rental travel wifi luar negeri ka dengan koneksi internet stabil. unlimited, up to 4G LTE dan harga mulai dari 60 ribu ajaa