Sunday, November 2, 2014

Turkiye Trip (part 1)

Haii pembaca yang budiman  (seriously it took 5 minutes for me to decide mau pakai kata sapaan apa). Begitu lamanya saya tidak menulis sampai setiap post harus dimulai dengan, wah sudah lama ya saya tidak update. hehe. Kali ini saya mempunyai strategi baru, saya akan menulis mulai dari traveling saya yang terbaru, well tidak bisa dibilang baru juga sih karena trip ini saya lakukan di bulan Mei-Jun tahun ini, tapi setidaknya bukan pengalaman yang 3 tahun lalu itu lho..

Jadi, trip ini sebenernya agak dadakan juga karena saya baru membeli tiket pesawatnya sekitar 1 bulan sebelum keberangkatan, waktu itu saya baru menyadari banyak public holiday di akhir bulan Mei, yang mana, dengan mengambil cuti 5 hari-an bisa mendapatkan 10-11 hari off, lumayan sekali bukan? Saya pun langsung mengajukan cuti dan setelah cuti diapprove oleh bos, hari itu juga saya membeli tiket. hehehe.

Awalnya saya mau menuliskan semua pengalaman saya di Turki dalam satu postingan, namun setelah mulai menulis tampaknya akan jadi panjang sekali, jadi supaya tidak bosan, saya split saja jadi beberapa postingan (yang masih entah kapan akan selesai..haha)


Why Turkey?

Turki memang sudah menjadi salah satu destination bucket list untuk saya, karena negara ini negara muslim yang ada di eropa, well sebenarnya sebagian besar dari Turki masih masuk asia sih, sebagai seroang muslim, tentunya merupakan tantangan tersendiri untuk bisa menunuaikan ibadah sholat 5 waktu ketika traveling terutama ke negara yang bukan muslim, makanya saya ingin mencoba sekali-sekali traveling di negara muslim gitu, dimana kalau mau sholat mudah dan makanan halal dapat ditemukan dengan mudah. Alasan lain banyak sih, saya tertarik dengan kota Istanbul, yang merupakan ibukota kekaisaran Romawi Timur dan juga Ottoman Empire.

Karena baru pertama kali ke negara ini, cukuplah mengunjungi kota-kota yang mainstream saja, yaitu Istanbul, Kapadokya dan Pamukkale. Sebenarnya saya sendiri cukup di kota Istanbul saja sudah senang kok, tapi dari hasil browsing sepertinya Kapdokya wajib sekali untuk dikunjungi, jadi baiklah. Kali ini saya tidak sendirian, tapi bersama 2 orang teman kuliah saya dulu, namun kami cukup fleksibel dalam itinerary karena tidak full-time kita selalu bersama, dan jadwal keberangkatan kita pun berdeda-beda, tapi itu tidak menyurutkan niat kita untuk traveling, ya iya lah, mahal juga tiketnya.


Aya Sofya at dusk


How to get there?

Sebagai WNI, kamu perlu visa untuk dapat mengunjungi negara Turki, cara mendapatkan visa Turki sangat mudah, kamu cukup apply e-visa melalui website berikut evisa Turkey
mengisi data-data yang diperlukan (nomor paspor, tanggal traveling, dst) dan membayar USD 25 untuk single entry visa yang berlaku selama 180 hari dari tanggal kedatangan yang kamu masukkan ketika apply dengan waktu kunjungan maksimum 30 hari. Tapi karena single entry tentunya tidak bisa keluar masuk juga sih, tapi paling tidak kalau kamu ada perubahan jadwal ke sana, selama perubahannya masih within 180 hari, tidak perlu apply visa ulang. Sedikit berbagi (curcol..) di bulan April kemarin mereka sempat mengganti harga evisa-nya dari USD 25 ke USD 40, ya ketika saya apply kemarin saya kebagian kenaikan harga tersebut, eh, ternyata ketika saya cek website-nya baru saja, harganya sudah kembali ke USD 25, kok bisa pas bener pas saya mau ke sana ya kemarin naiknya -_-.

Saya naik Qatar Airlines yang transit di Doha. Perjalanan Jakarta-Doha ditempuh sekitar 8 jam, Doha-Istanbul sekitar 4 jam perjalanan. Saya berangkat dari jakarta tengah malam dan akan sampai di Istanbul siang hari, yang mana sangat menguntungkan karena masih punya hampir satu hari full untuk jalan-jalan di Istanbul, apalagi saat itu matahari terbenam sekitar jam 8 malam, jadi masih banyak waktu. Saya akan menghabiskan 3 hari dulu di Istanbul sebelum ke kota lain, di mana untuk 2 hari pertama saya akan sendiri karena teman-teman saya, Sukma dan Zahra baru kan tiba tanggal 24 malam. 

Di pesawat, tanpa terduga saya bertemu dengan teman kantor lama saya dulu (yang mana sebenarnya saya pun tidak ingat kalau bukan dia yang menyapa duluan) yang bernama Uud, nah kebetulan sekali jadwal pesawat saya dan Uud ini sama persis, jadi senang juga sih dapat temen traveling. Uud sendiri ke sini dalam rangka mengujungi pacarnya yang berkewarganegaraan Turki, ah bikin iri saja. Masa transit yang tidak sampai 2 jam pun kami manfaatkan dengan berfoto-foto, mengobrol, dan membeli cinderamata. 


Me and Uud at Cafe in Taksim Area

How to from Airport to the City (Istanbul)

Salah satu hal yang membuat saya agak khawatir sebelum pergi adalah, bagaimana cara agar saya bisa sampai di hostel, karena lagi-lagi kali ini saya membawa backpack (yes, supaya bisa bilang backpacking ke Turki) yang cukup berat kalau sampai harus menyasar sambil mencari alamat. Petunjuk dari hostel lumayan jelas sih naik apa, dan cukup dekat dengan berjalan kali dari stasiun trem terdekat, namun yang membuat bingung bagaimana naik metro dari airport dan juga saya pada waktu itu belum menukar uang (mata uang di Turki adalah Turkish Lira (TL), 1 TL sekitar IDR 5,500). Beruntungnya saya ketemu sama Uud karena begitu sampai di Airport Ataturk Istanbul, dia sudah dijemput oleh kekasihnya yang bernama Serhat, jadi lah saya hanya tinggal mengikuti mereka saja. Untuk bayar metro dan Trem pun saya dibayarin oleh Serhat karena dia sudah punya kartu transport langganan (Istanbulkart). Kami naik metro sampai ujung yaitu Aksaray station, lalu berjalan untuk naik Trem, saya berpisah dengan mereka di stasiun trem. Jadi, mohon maaf ya saya tidak bisa berbagi bagaimana cara naik metro dari Airport, karena nebeng ya saya tidak mengingat-ingat juga. hehe

Transport at Istanbul

Sebenarnya untuk transportasi di kota Istanbul, paling nyaman adalah dengan membeli Istabulkart yang bisa digunakan untuk berbagai public transportasi di Istanbul seperti trem, bus, metro (subway). Namun sayangnya kartu ini tidak tersedia di setiap bus/metro/tram station, yang saya tahu ini bisa dibeli di Airport dan di tram/metro station Eminonu. Untuk naik public transport di Istanbul kalau tidak punya Istanbulkart kamu harus membeli token/jeton dulu di mesin yang ada di dekat pemberhentian, 1 jeton itu 3TL untuk sekali jalan, jika dengan Istanbulkart hanya 1.95 TL. Pertama kali beli Istanbulkart ini seharga 10 TL sudah termasuk balance 3 TL kalau tidak salah, Istanbulkart ini bisa diisi ulang di newsstand terdekat. Dengan Istanbulkart kamu hanya cukup men'tap' sekali kartunya sebelum naik dan sesudahnya tidak perlu men'tap' lagi. Jadi, saya sarankan sebaiknya menggunakan Istanbulkart terutama kalau mau berkeliling kota Istanbul, sedangkan kalau hanya berjalan-jalan di sekitar area Sultanahmet (kota tua) sebenarnya lebih menyenangkan dengan berjalan kaki. 

Where to stay? - Istanbul

Sepertinya sekarang saya akan membahas dulu mengenai tempat tinggal di Istanbul. Ada dua lokasi utama yang bisa dijadikan pilihan untuk mencari hotel/hostel di kota Istanbul, yaitu Sultanahmet dan Taksim. Kami pun waktu itu harus mencari tahu dulu di internet untuk memutuskan akan mencari penginapan di daerah mana. Jadi begini, Sultanahmet area adalah area kota tua dari kota Isanbul dimana bangunan-bangunan bersejarah yang memukau itu ada di sini seperti Hagia Sofya dan Blue Mosque. Keuntungan tinggal di sini adalah kamu dapat dengan mudah mengunjungi semua attractions ini dengan mudah (jalan kaki atau naik tram), suasana kotanya pun sangat menyenangkan, karena penuh dengan bangunan cantik, jalanan cobblestone, initinya sangat enjoyable untuk berkeliling di kota tua ini, hanya saja kalau weekend dari pagi sampai siang hari akan cukup ramai dengan kehadiran turis, tapi selain dari pada itu cukup dapat dinikmati. Malam hari mungkin akan lebih sepi jika dibandingkan dengan Taksim, yang merupakan pusat kota modern Istanbul, dimana banyak pertokoan, restoran, club, dan lain-lain yang akan hidup di malam hari. Nah, Taksim ini menurut saya lebih cocok untuk yang mencari hiburan di malam hari. Jadi sudah tahu dong apa pilihan saya?

Mencari hostel (udah umur segini tetep aja carinya hostel) di Istanbul ternyata agak susah juga, karena harus memilih antara harga, lokasi, dan juga review dari orang lain. Akhirnya saya dan Zahra pun memutuskan untuk memilih Secondhome Hostel yang dari lokasi memang oke banget (dekat dengan tram stop Gulhane), well sebenarnya hostel ini cukup oke, hanya saja kalau saya bandingkan dengan hostel-hostel tempat saya menginap sebelumnya hostel ini sih masih average. Malam pertama di Istanbul karena saya sendiri, saya meilih kamar female dorm untuk 4 orang. Kamarnya agak kecil jika penuh 4 orang dan hanya tersisa sedikit space untuk backpack/tas kami. Hostel ini dikelola oleh beberapa anak muda Turki.


Saya sampai di hostel sekiar jam 3 siang, sambil check-in saya ditawari welcome drink berupa apple tea. Oh iya, apple tea ini juga merukapan salah satu  minuman khas di Turki, dimana-mana pasti ditawarinnya apple tea. Setelah meletakkan barang-barang di kamar, sholat dan beristirahat sebentar, saya pun memutuskan untuk keluar dan berjalan-jalan. Memang masih capek banget sih setelah sekitar 13 jam lebih perjalanan, namun saya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mulai mengeksplore kota Istanbul.


with the hostel staff

Day 1 at Istanbul - Sultanahmet area

Saya pun berjalan-jalan di sekitar situ, tujuan saya paling tidak bisa melihat Hagia Sofya atau Blue Mosque saja sih dan untuk menikmati kota Istanbul di sore hari. Saya pun melewati berbagai pertokoan dan juga taman kecil di sekitar situ dimana cukup banyak juga wisatawan dan warga lokal yang sedang duduk-duduk di taman itu. Akhirnya saya menemukan sebuah bangunan Masjid yang besar, yang bernama Sultanahmet Mosque, saya masuk dari pintu samping Masjid ini, saya pun masuk ke pelataran Masjid, perhatian saya tertuju pada beberapa poster dan gambar di pelataran masjid, poster tersebut berisi dakwah mengenai Islam dan Ke-esa-an Tuhan dalam bahasa Turki dan Inggris. Saya berfikir ide ini yang bagus juga untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat dunia. Saya pun masuk ke dalam Mesjid-nya. Ada 2 antrian yang berbeda untuk yang ke Mesjid dengan tujuan Sholat atau untuk turis, kebetulan saat itu sedang waktu sholat Ashar sehingga antrian untuk turis sementara ditutup dahulu. Saya pun masuk melalui pintu khusus jamaah, ada gunanya juga saya memakai jilbab sehingga identitas saya sebagai seorang muslimah langsung diketahui. 


One of the poster for da'wah

Sultanahmet Mosque a.k.a Blue Mosque

Saya begitu terkagum-kagum dengan interior Masjid ini, sungguh cantik sekali penuh dengan kaligrafi dan lukisan bunga-bunga dengan warna warni yang memukau, yang didominasi warna biru, saya sampai bertanya-tanya kok masjid sebagus ini saya tidak pernah tahu sebelumnya ya, saya sampai berfikir, masjid yang tidak terlalu terkenal saja cantik begini apalagi Blue Mosque ya? Saya pun duduk di dalam masjid sambil berikstirahat dan menikmati pemandangan cantik masjid ini. Karena sedang waktu sholat saya jadi tidak bisa leluasa mengambil gambar juga sih, tapi tidak apa-apa karena saya masih punya waktu banyak di Istanbul. 


Inside Blue Mosque

Saya pun lalu keluar dari Masjid ini dari pintu yang berbeda dengan ketika saya masuk, dan betapa terkejutnya saya ketika saya keluar saya langsung melihat sebuah bangunan megah yang saya duga adalah Aya Sofya (betul sekali!) dan seketika itulah saya tersadar bahwa masjid yang saya kunjungi barusan adalah Blue Mosque atau Sultanahmed Camii atau Sultanahmet Mosque, beginilah kalau pergi kurang riset, hehehe. Oke, jadi masuk akal juga kenapa itu masjid bagus banget. Sebenarnya saya juga baru tahu sih kalau blue mosque dan Aya Sofya itu letaknya berhadap-hadapan. Di antara Aya Sofya dan Blue Mosque ini ada taman dimana terdapat air mancur dan bangku-bangku taman. Ini benar-benar menjadi spot favorit saya di Istanbul, asik sekali bisa duduk-duduk di sore hari dengan pemandangan dua bangunan luar biasa di depan dan di belakang kamu, suasananya syahdu dan romantis. 


Place to see and to be seen!

Blue mosque at night

Meet the stranger 1 - Kim

Setelah duduk-duduk saya pun berjalan-jalan di sekitar situ sambil berfoto-foto, saya kaget sekali ketika tiba-tiba saja ada seorang bapak orang Korea yang menyapa saya dan bertanya apakah saya orang Indonesia. Yang membuat saya kaget adalah bapak ini bertanya dengan bahasa Indonesia yang lumayan fasih. Kami pun berkenalan, dia ternyata seorang koki masakan korea dan jepang yang baru sebulan ini tinggal di Istanbul, namanya Kim (standar nama orang Korea sekali yah). Dia pun mengajak saya jalan bareng yang tentu saja saya iyakan, lumayan kan ada teman jalan dan bisa minta difotokan, hehe..(shallow abis..) Kami lalu berjalan di sekitar situ, dan saya pun masuk lagi ke Blue Mosque karena dia belum pernah ke situ. Saya sengaja tidak masuk ke Aya Sofya karena rencanan saya ke sini bersama Ara dan Sukma saja. Kami lanjut berjalan kaki ke Grand Bazaar, ini ide saya sih, bukan untuk belanja, hanya sekedar untuk melihat-lihat saja sebagai persiapan belanja yang sesungguhnya. Grand Bazaar ini besar sekali dan agak mengingatkan saya dengan Souk di Marrakesh, walaupun lebih teratur Grand Bazaar ini sih. Ternyata pergi ke Grand Bazaar sama bapak2 orang Korea ini tidak enak, hehe, dia hanya jalan terus aja, tidak melihat-lihat toko-tokonya sama sekali, saya yang mau melihat-lihat kan jadi tidak enak, padahal niatnya mau sambil survey harga. Tapi ya sudah lah, nanti bisa balik lagi ke sini. 

Inside Grand Bazaar

Saat itu hari sudah mulai sore dan Kim mengajak saya untuk pergi ke Taksim area, tadinya saya setuju saja tapi sebenarnya saya tidak begitu yakin sih ingin pergi ke sana, karena yang saya tahu di Taksim paling untuk ke cafe atau bar untuk minum atau mengobrol, males juga kali ya, akhirnya saya pun memutuskan untuk tidak ikut ke Taksim yang merupakan keputusan yang rasional pada saat itu karena saat itu hari mulai gelap, dan untuk ke Taksim harus naik subway dan tram beberapa kali, saya berfirkir nanti saya juga yang susah kalau sudah malam harus kembali lagi ke hostel karena hostel saya di Sultanahmet. Wow, bijak sekali bukan saya? Haha.

Meet the stranger 2 - Mehmet

Saya pun kembali ke taman Sultanahmet untuk mengambil foto Aya Sofya dan Blue Mosque di senja hari. Sebelum kembali ke hostel saya pun memutuskan untuk makan malam dulu dengan membeli kebab di kedai kebab yang ada di jalan searah jalan pulang ke hostel. Saya pun memesan 1 kebab dan minum, tadinya sih mau ditake away saja tapi karena mau numpang mencharge hp maka saya pun makan di situ (lame excuse..). Ada seorang pemuda turki yang sedang berjaga di kedai tersebut, dia pun mulai mengajak ngobrol, saya sih selalu senang ya mengobrol dengan orang baru dan dan bisa tahu juga cerita dan kebudayaan masyarakat sekitar. Dari pembicaraan saya dengan dia ini saya baru menyadari bahwa meskipun Turki adalah negara muslim, mayoritas dari muslim di Turki tidak menjalankan Islam dengan sungguh-sungguh, mungkin hanya sekitar 15% saja yang benar-benar menjalankan. Oh iya nama pemuda ini Mehmet (90% pria Turki mempunyai nama ini), dia sendiri mengaku tidak menjalankan sholat 5 waktu (hanya sholat jumat saja) dan masih minum minuman keras. Ini merupakan hal yang baru saya ketahui ketika saya di sana, Sepertinya di Turki ada gap antara muslim yang menjalankan ibadah dengan sungguh-sungguh dengan yang sekuler. Tapi, untuk soal makanan sih jangan khawatir, biarpun tidak sholat, mereka tetap tidak makan babi loh!

Setelah selesai dan membayar saya pun mengajak berfoto si Mehmet ini (kesalahan no. 1) tanpa maksud apa-apa lho hanya untuk dokumentasi saja. Eh, setelah itu dia mengajak saya minum teh sambil berjalan-jalan, saya sebenarnya sudah sangat lelah tapi karena masih kenyang, akhirnya saya setuju saja dengan alasan sambil membakar makanan yang baru saya makan (kesalahan no. 2). Kami pun berjalan dan akhirnya duduk-duduk di kursi taman depan Blue Mosque, sambil minum teh kami pun mengobrol. Sumpah pemirsa, ini suasananya romantis banget lho, sepi dan dinginnya malam, sambil melihat Blue Mosque yang cantik di malam, ditemani seorang pemuda tampan (yes, I am lame). Sekitar jam 11 malam saya pun memutuskan untuk menyudahi pertemuan ini, maka kami pun berjalan pulang dan si doi akan mengantarkan ke hostel saya, yup, saya memberi tahu di mana saya tinggal (kesalahan no. 3), ketika sedang berjalan pulang, somehow saya merasa bahwa kita tidak mengarah ke hostel saya, untung saja sebelumnya saya sudah jalan-jalan di sekitar situ, jadi saya sudah agak familiar, lalu saya Tanya dia, eh kita mau kemana sih, kayanya hostel gue bukan ke arah sini deh, eh ternyata dia fikir kita mau menuju tempat water pipe, hays, yang bener saja sudah jam 11 malam begini, dengan alasan sudah sangat lelah karena long flight saya tetap meminta pulang, akhirnya dia pun setuju, tapi ya, jalan yang kami gunakan bukanlah jalan biasa yang saya kenal melainkan lewat jalan-jalan belakang yang tidak saya tahu sebelumnya, saat itu saya baru mulai was-was, ya baru sekarang (bodoh!), dan itu jam 11 malam, jalanan sepi, tapi syukurlah saya masih dilindungi oleh Allah SWT ternyata dia mengantarkan ke hostel yang benar. Alhamdulillah, saya pun lega sekali. Sebelum berpisah si doi sempat bertanya no. telp saya supaya besok-besok bisa janjian lagi, tentunya saya kasih dong (kesalahan no. 4). Nah, apakah kalian pensaran dengan kelanjutan hubungan kami berdua? Well, ternyata akibat kesalahan 1-4 di atas, sepertinya si Mehmet ini merasa saya tertarik sama dia dan mulai membombardir (lebay..) saya dengan message-message yang (sok) mesra gitu..hahahaha, maaf ya, met, kamu ganteng sih, tapi ganteng saja buat apa kalau tidak sholat 5 waktu (alim mode on). Alhasil, selama sisa waktu saya di Istanbul setiap kali melewati kedai kebap si Mehmet saya harus berjalan cepat-cepat sambil menunduk supaya tidak ketahuan, tapi saya tidak menyesal, karena selalu ada pelajaran yang dapat diambil dari pengalaman ini.

Karena sudah cukup panjang, sepertinya harus disambung beberapa postingan nih, dan ini pun baru hari pertama, haha, selamat menunggu cerita selanjutnya :)

1 comment:

si ona said...

Crita si memet paling ngakaakkk dg melist kesalahan2 bahahahaha