Tuesday, November 11, 2014

Turkiye Trip (part 2)

Halo para pembaca, kali ini masih tentang Turki ya, nah di part 2 ini saya akan berbagi mengenai tempat-tempat menarik yang bisa kamu kunjungi di Istanbul. Sebenarnya sih untuk tahu rekomendasi attractions di Turki, bisa dengan mudah kamu dapatkan dengan googling saja, namun, saya selalu berprinsip my favorite travel reference adalah dari teman-teman saya yang sudah pernah ke sana sebelumnya, karena lebih terpercaya, jadi kalau kamu menganggap saya teman, tentunya kamu akan tetap membaca entry ini walaupun mungkin isinya tidak jauh berbeda dengan apa yang kamu temukan di website travel atau blog orang lain.

I’m a fan of list, jadi pake list saja yaa, tidak ada maksud tertentu dalam urutannya ya


1. Blue Mosque


Blue Mosque atau Sultanahmet Mosque atau Sultanahmet Camii (C di baca J di Turki), saya masih penasaran apakah mereka menyebut Coca Cola dengan Joja Jola, haha, ga penting. Selama 5 hari di Istanbul saya beberapa kali mengunjungi Blue Mosque untuk tujuan menjalankan ibadah Sholat. Suatu waktu saya mengikuti sholat Maghrib berjamaah, awalnya gak niat sih, hanya karena saya sholat ashar-nya udah mepet waktu mahghrib. Ternyata kalau pas Maghrib, untuk wanita tempat sholatnya adalah di lantai 2, dan pintu menuju lantai 2 ini baru dibuka ketika sholat maghrib berjamaah akan dilakukan. Saya selalu senang mengunjungi Mesjid ketika traveling dan sholat di sana, baik itu di Negara muslim atau bukan, mungkin karena waktu ke Eropa dulu saya lebih sering main ke gereja dibandingkan ke Masjid jadi ada sedikit perasaan bersalah, hehehe. Kemegahan dan kecantikan Blue Mosque memang sudah tidak diragukan lagi, jadi tak perlu lah ya saya mendeskripsikan lebih lanjut. Supaya lebih informatif, saya tambahkan info-info berikut deh ya.
  • Entrance Fee: Free
  • Operation hour: 24/7 namun jika masuk waktu sholat masjid tertutup untuk umum, hanya boleh dikunjungi muslim yang akan menjalankan ibadah sholat sekitar 30 menit.
  • http://www.bluemosque.co/

Blue Mosque



Inside Blue Mosque during prayer time


Blue Mosque at dusk


2. Aya Sofya


Aya Sofya atau Hagia Sophia merupakan sebuah bangunan yang memiliki sejarah panjang lebih dari seribu tahun yang lalu, pada awalnya bangunan ini adalah gereja Katolik Romawi kuno, lalu pada tahun 1453 setelah Istanbul dikuasai oleh Ottoman Empire, bangunan ini diconvert menjadi Masjid, namun uniknya simbol-simbol agama katolik masih ada terpampang nyata di sini, jadi walaupun sudah dirubah fungsi menjadi masjid, simbol-simbol agama lain tetap dipertahankan yang mana menunjukkan adanya toleransi antar umat beragama yang tinggi (eh tapi mungkin gak tinggi-tinggi amat kali ya, secara benar-benar dirubah fungsinya bukan 50-50, haha analisa asal-asalan aja). Pada tahun 1935, saat berakhirnya kekaisaran Ottoman, Turki memulai modernisasi dan sekularisasinya, oleh sebab itu Aya Sofya pun kembali berganti fungsi menjadi Museum yang mungkin menjadi solusi yang tepat bagi semua pihak. Mengunjungi bangunan bersejarah memang selalu memberikan sensasi tersendiri untuk saya, apalagi sebelum ke sini, saya sudah menyempatkan diri membaca sedikit mengenai sejarah Istanbul atau Konstantinopel ini. Di dalam Aya Sofya banyak terdapat mosaic artistic yang menceritakan berbagai kisah keagamaan, dan ada beberapa pilar super besar di dalamnya, terdapat pula beberapa lempengan koin hijau raksasa yang bertuliskan kaligrafi Allah, Nabi Muhammad SAW, dan empat khalifah Rasulullah SAW. Bagian yang paling impresif adalah dome/kubah yang ada di tengahnya dengan diameter sekitar 31m dan tinggi sekitar 55m yang berhiaskan kaligrafi surat An-Nur

Kami datang ke sana agak pagi tapi karena weekend, tetap saja kami harus sedikit antre untuk membeli tiket. Saya sempat terpisah dari 2 travelmate saya karena mereka sibuk melakukan video selfie, karena kelamaan saya jalan-jalan sendiri saja daripada bengong hanya menunggu, alhasil saya jalan saja mengexplore museum ini sendirian, setelah selesai baru deh saya berusaha mencari mereka, karena tidak kunjung ketemu juga, akhirnya saya memutuskan untuk keluar saja dan menunggu mereka di luar dimana saya bisa melihat pintu keluar, saya pun sempat mengurim sms untuk memberi tahu mereka dimana saya berada, kira-kira sekitar 10 menitan saya menunggu akhirnya ketemu juga.



Inside Aya Sofya - symbols from 2 religions


Inside Aya Sofya


Aya Sofya at night


Inside Aya Sofya


Sultanahmet Garden

3. Gulhane Park

Saya menemukan taman cantik nan asri ini secara tidak sengaja, waktu itu di pagi hari ke-2 saya di Istanbul, saya berjalan-jalan sendiri karena kedua travelmate saya belum datang. Niat awal mau ke Topkapi palace, namun ketika berjalan dari arah hostel, ketemu Gulhane Park ini maka saya langsung tertarik untuk melihat-lihat. Gulhane Park merupakan taman terluas dan tertua di Istanbul. Gulhane Park ini ternyata dulunya merupakan dari taman untuk Topkapi Palace, jadi taman ini sudah ada dari jaman dulu banget, namun tentunya sudah mengalami restorasi sehingga tetap cantik dan menawan. Saya memang penggemar piazza/square dan taman kota, jika memungkinkan saya selalu mengalokasikan waktu untuk berjalan-jalan satai menikmati suasana taman kota. Untuk berjalan-jalan sudah ada path utama yang lumayan lebar dimana kamu bisa mengikuti jalan ini, jalannya kadang naik kadang turun dan kadang berbelok juga, di sepanjang jalan utama ini terdapat bangku-bangku taman di pinggirnya dimana kita bisa duduk-duduk santai dan ada pohon-pohon besar juga di sepanjang jalan sehingga bisa dipastikan suasananya sangat adem dan sangat kondusif untuk jalan santai, saya pun menobatkan Gulhane Park sebagai salah satu spot romantic di kota Istanbul.  Selain path utama ini di dalamnya terdapat juga beberapa path lain jika kita ingin mengeksplore lebih dalam lagi.

Selain pohon-pohon besar ada juga berbagai tanaman bunga-bungaan yang cantik di sini, walaupun tulipnya sudah tidak ada sih.  FYI, bunga tulip itu aslinya berasal dari Negara Turki, jadi orang-orang Belanda yang membawa bunga tulip ini ke negaranya untuk dikembangkan dan Belanda pun tampaknya lebih jago dalam hal marketing sehingga dapat memasarkan bunga tulip ini dengan baik bahkan membuatnya identic dengan Negara kincir angin ini. Kembali ke bunga ya, sayang sekali waktu itu saya belum melihat video Syahrini di Itali, jadinya saya tidak kepikiran untuk membuat video tandingan, hahaha. 


Gulhane Park


Gulhane Park

4. Basilica Cistern


Sejujurnya karena agak dadakan, trip saya ke Turki ini memang agak sedikit kurang riset, kunjungan saya ke tempat ini pun karena rekomendasi dari si Mehmet (masih ingat dong siapa dia dari cerita part 1). Basilica Cistern ini letaknya ada di bawah tanah, dan dari luar tempatnya terlihat bangunan kecil saja karena sebagian besar memang adanya underground. Jadi, tempat ini sudah ada dari jaman romawi kuno dulu dan fungsinya adalah sebagai penyimpanan dan penyaringan air, dan masih digunakan sampai masa Ottoman dan juga sekarang. Dengar-dengar akustik di tempat ini sangat bagus oleh sebab itu kadang-kadang diadakan pertunjukan music di sini. Begitu masuk kamu akan turun ke bawah melaui beberapa anak tangga, suasana mistis pun langsung terasa apalagi dengan lampu yang temaram dan hawa dingin yang menyergap. Saya menyewa audio guide untuk mendapatkan informasi tambahan mengenai tempat ini, sebenarnya sih bisa browsing aja ya.

Di tempat ini kamu akan melihat beberapa kolam-kolam air dan terdapat pilar-pilar besar disekelilingnya, kamu bisa berjalan saja mengukuti arus manusia yang ada di situ. Yang menarik di sini menurut saya adalah adanya patung kepala medusa (wanita berambut ular) yang diletakkan terbalik di bagian dalam tempat ini, menarik karena saya baru mengetahui kisah medusa karena datang ke sini, saya lupa apakah saya dengar dari audio guide atau menguping tour guide ya, hehe. Jadi ternyata medusa ini bukan seorang penjahat melainkan dia adalah seorang korban, jadi ceritanya ternyata dulu dia seorang wanita cantik yang akibat kecemburuan Athena dikutuk menjadi wanita berambut ular dan barang siapa yang memandang matanya akan menjadi batu, sedih ya ceritanya. Jadi kepala medusa ini diletakkan terbalik konon untuk menghilangkan kekuatan gaibnya. Oh iya, di tempat ini juga terdapat studio foto kecil dimana kamu bisa berfoto menggunakan kostum Sultan dan Sultana Turki, tarifnya sekitar 20 TL kalau tidak salah.

  • Entrance Fee: 10 TL plus 5 TL untuk audio guide (optional)
  • Operation hour: All day from 9am – 5.30pm
  • http://yerebatan.com/



Basilica Cistern


Medusa Head


5. Dolmabahce Palace

Satu lagi tempat yang direkomendasikan Mehmet adalah Dolmabahce Palace. Sebuah Istana mewah dan megah yang menjadi tempat tinggal dari 6 sultan dan keluarganya sejak tahun 1856, sebelumnya para Sultan ini tinggal di Topkapi Palace yang sangat sederhana jika dibandingkan dengan Dolmabahce. Untuk masuk ke dalam Palace ini kamu harus join guided tour-nya bersama sekitar 30-50 orang lainnya dengan dipandu oleh satu tour guide yang berbahasa Inggris. Kita tidak diperbolehkan mengambil foto di dalam palace-nya dan tour guide sudah mewanti-wanti dari awal karena walaupun mewah, istana ini banyak terbuat dari ornament kayu sehingga untuk menjaga kelestariannya jumlah pengunjung per hari pun dibatasi dan tidak boleh mengambil foto. Saya pun patuh saja pada peraturan ini karena alasannya pun makes sense, eh tapi malah saya lihat beberapa bule masih saja tetap usaha memgambil foto, samai si guide harus menegur dengan agak keras. Ah, jadi bangga sama diri sendiri, sebagai orang Asia saya masih lebih civilized dari pada bule-bule itu. Hahaha.

Salah satu hal penting mengenai Palace ini adalah, Mustafa Kemal Atarurk, penemu dan presdiden pertama Republik Turki menggunakan tempat ini sebagai tempat tinggal kepresidenan saat musim panas, beliau pun meninggal di salah satu kamar di Palance ini pada tahun 1938. Satu hal lain yang cukup impresif bagi saya adalah chandelier besar yang ada di hall utama yang katanya merupakan chandelier terbesar di jamannya yang mana adalah hadiah dari Queen Victoria, dihiasi 750 lampu kristal dengan berat 4.5 ton, jadi serem juga kalau tiba-tiba saja chandelier itu jatuh, hehe. Tour guide dapat menjelaskan dengan detail baik itu sejarah dan juga fakta-fakta mengenai palace (contoh, luas, jumlah kamar, dll).

Saya juga membeli tiket untuk masuk ke Harem (tempat para wanita) yang mana ada guided tour juga untuk masuk ke sini. Ternyata harem itu tidak melulu merujuk pada tempat para Sultan berasyik masyuk lho, jadi definisi harem sendiri sebenarnya adalah tempat tinggal para wanita, jadi jaman dulu memang wanita hanya diperkenankan tinggal dan berkeliaran di gedung harem ini saja, dan tidak diperbolehkan untuk masuk ke Istana utama. Untuk dapat ke sini kamu bisa naik tram sampai Kabatas stop lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 5-10 menit. Informasi tambahan, untuk bisa masuk ke dalam area palace ini kamu harus membeli tiket masuk, jadi tiket masuk bukan hanya untuk masuk ke palace-nya saja, agak pelit sih ya, karena banyak dari palace-palace di Europe itu free entrance untuk masuk ke gerbang dan tamannya, hanya kalau masuk ke dalam bangunannya baru bayar, tapi ya begitulah adanya.

  • Entrance Fee: 40 (audio guide and harem included)
  • Operation hour: 9am – 4pm Closed on Monday and Thursday



Dolmabahce Palace Inside


Dolmabahce Palace Garden

6. Ortakoy


Sebenarnya saya tidak pernah berniat untuk ke Ortakoy, saya ke sini karena saya mau janjian sama Uud yang sedang jalan bareng pacarnya dan teman-teman pacarnya (saya udah kenalin Uud ini di part 1). Jadi di hari ke-2 di Istanbul karena saya masih sendirian, saya memutuskan untuk gabung saja sama Uud daripada saya jalan-jalan sendirian di Istanbul yang tentunya akan memancing pria2 gajebo mendekati saya (pede abis..) hahaha, oleh karena itu supaya lebih aman saya jalan saja sama rombongan Uud ini. Ortakoy ini bukan tempat yang mainstream untuk dikunjungi makanya saya ke sini pun naik taksi. Dengan penuh perjuangan akhirnya saya pun bertemu dengan Uud di sini, secara saya tidak ada internet dan hanya bisa dipake sms saja. Ortakoy ini sebuah tempat yang nyaman untuk makan-makan dan kongkow bareng teman-teman, jadi banyak restoran, kafe dan jajanan di sekitar sini. Di sini kamu juga bisa melihat pemandangan selat Bosphorus dan jembatan yang mengubungkan Asia dan Eropa kota Istanbul, ada masjid juga di pinggir selat ini yang kalau terlihat dari jauh seakan terapung di selat Bosphorus.


Ortakoy Mosque


Ortakoy


Ortakoy


7. Istiklal Avenue at Taksim


Taksim ini berada di bagian Asia dari kota Istanbul, bagian modern dari kota Istanbul. Ada sebuah jalan yang begitu hip di sini ya itu Jalan Istiklal atau Istiklal Avenue, di samping jalan ini berderet toko-toko, restoran, kafe dan lainnya dan sebuah kegiatan yang mengasyikan berjalan menyusuri Istiklal avenue, apalagi di malam libur dimana jalanan begitu ramai dan kamu pun terbawa dengan suasana hiruk pikuk di situ, suasananya mengingat kan saya akan La Rambla di Barcelona atau daerah Stephanplatz di Wina. Saya sempat 2 kali ke sini, yang pertama bersama dengan Uud, Serhat and friends, yang ke dua bersama Ara dan Sukma. Cara ke Taksim dari Sultanahment adalah dengan naik tram sampai Kabatas stop, lalu lanjut naik funicular.

Oh iya, sebagai alternatif, kamu bisa juga naik nostalgic tram yang melintasi Istiklal Avenue, disebut nostalgic karena bentuknya masih berupa tram jadul gitu lho dengan warna merahnya. Pemandangan tram di tengah keramaian Istiklal Avenue menjadi salah satu gambar yang iconic yang banyak terdapat di beberapa cinderamata seperti magnet, keychain, lukisan, kaos, dll. Di lorong-lorong di pinggiran Istiklal Avenue ini juga banyak terdapat resoran dan kafe tempat nongkrong kaum muda Turki, saya juga sempat nongkrong sambil minum the di sini bersama Uud dan kawan-kawan.

Istiklal Avenue at Taksim


Nostalgic tram at Istiklal Avenue


Taksim Square


Taksim Square

8. Grand Bazaar

Sebelumnya saya sempat membahas mengenai Grand Bazaar di part 1. Grand Bazaar merupakan salah satu pasar terbesar dan tertua di dunia, yang terdiri lebih dari 4000 toko. Ketika masuk ke sini cobalah untuk tetap berada di jalan utama, karena begitu kamu mencoba masuk ke salah satu belokan (jalan kecil), akan dapat dipastikn kamu tidak akan dapat kembali lagi ke tempat awal kamu masuk, selama beberapa kali saya ke sini saya selalu masuk dan keluar dari pintu yang berbeda. Pasar ini serba ada, mulai dari suvenir, baju, aksesoris, makanan, semuanya ada di sini, namun satu hal yang saya notice, barang-barang yang dijual Antara toko satu dan lainnya tidak terlalu berbeda jauh. Di sini kalau niat berbelanja harus pintar menawar karena pada dasarnya barang-barang yang dijual di sini dapat ditemukan juga di luar Grand Bazaar dengan harga yang lebih murah, tapi mungkin harus pintar-pintar mencari tempatnya juga. Grand Bazaar ini cukup terkenal terutama di kalangan turis-turis Indonesia. Selama saya di Istanbul, saya ketemu orang Indonesia hanya di sini saja lho, karena kebanyakan turis Indonesia ikut paket tur atau ada juga yang dari Umroh plus turki, dimana di dalam itinerary dari tur pasti ada agenda untuk ke sini.

Untuk menuju Grand Bazaar dari Sultanahmet kamu bisa berjalan kaki, atau bisa juga naik tram jurusan Zeytinburnu dan turun di tram stop Beyazit. Nah, kalau kamu mau membeli oleh-oleh atau cinderamata saya sarankan jangan membeli di Grand Bazaar, karena di sepanjang jalan Antara tram stop Beyazit dan tram stop Camberlitas ini kamu bisa menemukan barang-barang yang sama dengan yang ada di Grand Bazaar dan enaknya kamu tidak perlu tawar menawar lagi karena harganya sudah fix dan murah banget, lebih menghemat waktu dan tenaga juga harus tawar-menawar kan. Eh, tapi kalau mau membeli di Grand Bazaar ya tidak apa-apa, tapi kalau kamu tidak pandai menawar sih siap-siap aja membayar lebih mahal.

  • Entrance Fee: Free
  • Operation hour: from 8.30am – 7pm. Closed on Sunday



Grand Bazaar


9. Topkapi Palace

Saya mengunjungi Topkapi Palace (dibaca topkape) di hari ke-3 saya di Istanbul, yang kebetulan hari Minggu hari libur, fyi, ketika masa Ottoman, hari libur di Turki adalah hari Jumat, namun dengan modernisasi Republik Turki jadilah mengikuti barat menjadi hari minggu. Kami ke sana sudah agak sore dan kira-kira 2 jam sebelum waktu tutup, namun demikian tetap saja harus sedikit mengantri untuk membeli tiket masuk, saya tidak bisa membayangkan kalau pagi atau siang hari pasti antriannya lebih heboh lagi. Sebelum masuk ke dalam palace, kami bertiga sempat bersantai dulu di taman di depan palace, lumayan bisa duduk-duduk di rumput sambil mengobrol dan befoto (teteupp…).

Keinginan saya mengunjungi Topkapi bermula ketika saya menonton VCD yang menceritakan bahwa barang-barang peninggalan Rasulullah SAW disimpan di Topkapi Palace. Topkapi Palace sendiri merupakan tempat tinggal dari sultan-sultan Ottoman selama kurang lebih 400 tahun (sebelum pindah ke Dolmabahce). Saat ini merupakan museum yang memamerkan barang-barang milik para sultan, seperti porcelain, senjata, baju perang, murals, perhiasan, harta benda, dan ada manuskrip Islam juga.  Ada lebih dari 400 ruangan di sini, namun hanya beberapa saja yang dibuka untuk umum. Bagian paling menarik menurut saya sebagai seorang muslim adalah secret chamber of Rasulullah SAW dimana terdapat koleksi peninggalan dari Nabi Muhammad, keluarga, kerabat dan para sahabatnya, dan yang paling impresif buat saya adalah di dalam ruangan itu saya mendengar sayup-sayup suara mengaji (murrotal) yang awalnya saya fikir adalah kaset yang diputar (emang masih jaman apa kaset?? Ya deh CD) namun ternyata ada orang yang live membacakan ayat-ayat suci Al-Quran, subhanallah, luar biasa sekali ya pekerjaan orang ini, pasti pahalanya banyak setiap hari membaca Quran dan didengar oleh banyak orang.

Di bagian belakang dari Topkapi Palace, kamu bisa melihat pemandangan selat Bosphorus yang sangat Indah, warna biru yang cantik dengan pemadangan Istanbul di sisi asia. Di sini juga ada sebuah café yang overpriced tapi cukup worth it untuk viewnya, eh tapi tidak harus ke kafe ini juga sih kalau mau melihat pemandangan.

  • Entrance Fee: 30 TL
  • Operation hour: from 9am – 4.45pm (winter season), 9am – 6.45pm (summer season). Ticket booths close 45 minutes before closing time.
  • http://www.topkapisarayi.gov.tr/



at the gate of Topkapi Palace


Inside Topkapi Palace


View of Bosphorus Strait from the back of Topkapi Palace

10. Sulemaniye Mosque

Salah satu masjid besar yang ada di Istanbul, bahkan masjid ini lebih besar dari Blue Mosque. Saya dan Sukma mampir ke sini untuk menjalankan ibadah sholat Zuhur dan Ashar. Agak sulit untuk mencapai masjid ini, karena kamu harus berjalan kaki melewati jalanan-jalanan kecil, detailnya saya tidak begitu ingat, nanti coba saya browsing dan tambahkan di sini, hehehe. Secara desain interior mungkin masjid ini tidak secantik Blue Mosque, namun yang saya suka adalah suasanya yang begitu serene dan syahdu, beda dengan Blue Mosque yang ramai oleh turis. Ada turis juga sih ke sini tapi masih dalam level yang moderate jadi tempat ini cocok sekali untuk menjalankan ibadah (sholat, membaca Quran – di dalam masjid disediakam Quran yang bisa dipinjam) dan berkontemplasi.

Inside Sulemaniye Mosque

View at the back of the mosque

Sulemaniye Mosque



11. Galata Tower


Jika kamu naik tram sampai Eminonu stop, lalu berjalan menyusuri selat Bosphorus, kamu akan melihat pemadangan bagian asia kota Istanbul, ada sebuah bangunan yang khas dan mudah dikenali, yup, namanya adalah Galata Tower yang merupakan salah satu icon juga untuk kota Istanbul (agak banyak ya icon-nya). Untuk menuju ke Galata Tower kamu dapat berjalan menyeberangi Galata Bridge lalu kamu hanya perlu mengikuti petunjuk jalan yang ada saja karena banyak petunjuk yang mengarahkan kamu ke sana. Lama perjalanan berjalan kaki mungkin sekitar 10 menit namun harap diketahui bahwa jalanannya agak menanjak ya. Tinggi menara ini 67m dan kamu bisa naik ke atasnya (dengan lift, jangan khawatir), saya sendiri tidak naik ke situ, habis bayar sih, haha. Kata seorang teman sih best time kalau mau naik ke sini itu pas sunset dimana pembandangannya luar biasa sekali dari sini, oh iya di atas menara ini juga ada restoran (yang overpriced), tapi gak diharuskan juga makan di sini, jadi tidak saya sarankan kecuali ditraktir ya.

Dalam perjalanan dari Galata Bridge menuju Galata Tower ini kamu akan menemukan banyak toko-toko unik, vintage, dan lucu. Kalau menurut hemat saya barang-barang yang dijual di sini lebih menarik dibandingkan dengan Grand Bazaar, tapi tetap harus nawar ya kalau mau beli.

  • Entrance Fee: 10 TL
  • Operation hour: All day from 9am – 8pm


Galata Tower at night


View of Asia part of Istanbul from the Europe side

12. Maiden Tower


Maiden tower (Kizkulesi) ini juga bukan tempat yang mainstream untuk dikunjungi, tempat ini direkomendasikan oleh salah satu teman orang Turki juga. Asiknya karena saya punya waktu yang lumayan lama di Istanbul, jadic cukup puas juga menjelajah kota yang mempesona ini.

Cerita di balik Maiden Tower ini alkisah di jaman Byzantium dulu, sang Raja mendapat wangsit bahwa putrinya akan meninggal digigit ular pada umur yang ke-18, maka dia membangun menara ini yang agak terpisah dari daratan supaya ular tidak bisa datang ke situ, namun takdir memang kejam, ternyata ada seekor ular yang bersembunyi di dalam keranjang buah yang dibawa ke situ, sehingga sang putri pun meninggal dunia akibat si ular cerdik itu (cerdik lah ya ular ini bisa ngumpet di keranjang buah!)

Maiden Tower ini merupakan sebuah menara yang terletak di tengah-tengah laut/selat Bosphorus yang berada di Uskudar District. Saya dan Sukma ke sini di malam hari dan ternyata memang waktu yang tepat karena menara ini terlihat lebih cantik di malam hari. Kami ke sini naik kapal ferry dari Eminonu menuju Uskudar, perjalanan sekitar 10 menit, lalu ketika turun kamu harus berjalan sekitar 20 menit untuk bisa sampai ke menara setinggi 23m ini. Di sepanjang jalan menuju menara ini kamu akan disuguhi pemandangan cantik gemerlap kota Istanbul di seberang selat Bosphorus, di sini pun banyak disediakan kursi-kursi panjang (seperti di stadion olah raga saja) untuk duduk-duduk sambil melihat pemandangan. Nah, tempat ini juga saya nobatkan menjadi romantic spot di Istanbul (duhh, banyak yaa). Karena sudah agak malam untuk kembali ke Sultanahmet kami tidak naik ferry, karena sepertinya ferry sudah tidak beroperasi. Ternyata saya baru sadar kalau kita tidak harus naik ferry untuk bisa sampai ke Uskudar. Saya ingat ketika jalan bareng si Mehmet, dia pernah memberi tahu saya kalau ada kereta baru yang melewati selat Bosphorus (underground), yang mana stasiunnya yang bernama Marmaray itu ada di dekat hostel saya (kalau lewat jalan belakang), ternyata ada gunanya juga saya menghabiskan waktu bersama dia, haha. Jadilah kita naik kereta itu untuk kembali ke Sultanahmet.




Maiden Tower


Bench to vie

13. Miniaturk


Dari namanya mungkin kamu sudah dapat menebak tempat apakah ini, yup betul sekali, tempat ini semacam taman mininya Turki mungkin semacam Madurodam di Den Haag, Belanda. Yah lumayan lah kalau kamu ingin tahu tempat-tempat bagus yang ada di Turki, karena selain miniaturnya bagus-bagus dan terlihat sangat real, di setiap tempat juga ada audio guide-nya yang akan memberikan penjelasan singkat mengenai tempat/bangunan tersebut, kamu hanya tinggal men-scan barcode yang ada di tiket masuk, informasi tersedia dalam 2 bahasa, Bahasa Inggris dan Turki.

Untuk menuju ke sini, cara paling mudah adalah dengan naik bis no. 47C atau 47E dari Eminonu, kamu bisa menunggu bus di halte sesuai dengan nomor bus, jadi tinggal  dilihat saja. Lama perjalanan sekitar 30 menit namun enaknya kamu bisa turun tepat di Miniaturknya, hanya tinggal jalan sedikit saja. Untuk naik bis kamu harus menggunakan Istanbulkart tidak bisa membayar dengan uang biasa ataupun token.






















14. Little Aya Sofya
Saya ke sini di hari terakhir di Istanbul, ketika semua tempat sepertinya sudah dikunjungi dan semua barang belanjaan sudah dibeli, hehe. Mini Aya Sofya ini bisa dicapai dengan berjalan kaki dari area dekat Blue Mosque lalu kamu bisa mengikuti petunjuk jalan atau bertanya pada orang (haha..sangat tidak informative), oh iya kalau mau Tanya bisa bilang Kucuk Aya Sofya, kucuk itu artinya kecil dalam Bahasa turki. Yang saya ingat tidak jauh hanya sekitar 10 menit dari Blue Mosque dan melalui jalan-jalan kecil. Oh, alternative lain cari dulu di google map ketika ada wifi, lalu screen shot peta-nya dan gunakan itu sebagai petunjuk jalan, actually saya sering sekali melakukan ini, kadang-kadang tetap bingung sih, tapi most of the time it works.

Little Aya Sofya ini sama seperti Aya Sofya, dulunya merupakan gereja orthodox pada era Constantinople lalu diconvert menjadi masjid di masa Ottoman. Mengapa di sebut little Aya sofya karena design central dome yang ada di sini sangat mirip dengan Aya Sofya besar.




Oke sekian dulu ya teman cerita tentang Istanbul untuk kali ini, awalnya saya ingin memberikan review juga untuk makanan dan jajanan di Istanbul, nanti deh ya kalau ada waktu saya tambahkan ke sini. Terima kasih sudah membaca tulisan saya ini, jika anda puas, harap beri tahu kawan anda, jika kurang puas, harap beri tahu kami (ala-ala warteg). Sekian ^^

3 comments:

Anonymous said...

Kak Nianti, tulisannya sangat menbatu utk yang mau liburan ke Turki :)

Tesya Sophianti said...

Salam kenal ya, saya lagi nyari2 tentang Miniaturk dan ketemu blognya.
Thanks for sharing:)

Niantiaulia said...

Salam kenal juga Mbak Tesya, blognya bagus mba =)