Sunday, March 15, 2015

Bali Physical Challenge Holiday

After 2.5 half months of 2015, finally saya menulis lagi, pakai bahasa Indonesia saja ya saya, sambil mengasah kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar (apa cobaa?). Oke, pada kesempatan kali ini saya akan membagi pengalaman traveling saya yang paling terbaru, yaitu ke Pulau Dewata alias Bali sekitar 1 bulan yang lalu. Sebenarnya sebelum ke Bali saya juga ke Padang dan ke Jogja, namun saya coba menuliskan dari yang paling baru dulu kali ya.. 

Traveling kali ini cukup spesial karena saya tidak perlu membayar tiket pesawat, kenapa? Karena ini sebenarnya ada acara dari kantor, acara kantor hanya 2 hari, saya extend jadi 6 hari, hehe, seperti biasa ogah rugi dong. Saya sendiri sangat excited untuk pergi ke Bali karena terakhir saya ke Bali tahun 2009, dan selama 2 kali saya ke Bali itu dalam rangka acara outing kantor dan kebetulan saya dulu masih lugu jadi tidak mengambil kesempatan untuk extend. Alhasil, bisa dikatakan saya belum pernah mengeksplore Bali, kalau acara kantor kan ikut saja dengan itinerary dari kantor dan tempat-tempatnya pun yang mainstream. Saya extend bersama salah satu rekan saya di kantor bernama Dita yang sudah sering sekali ke Bali, jadi saya percayakan saja kepada dia untuk itinerarynya toh saya belum pernah kemana-mana di Bali, kemanapun saya pasti senang.

Pura dan Danau Beratan di Bedugul


Day 1 - 12 Feb

Saya tiba di Bali hari kamis pada sore hari, wah, saya terkagum-kagum dengan airportnya yang keren, maklum terakhir saya ke Bali airportnya mah biasa aja, ternyata airport untuk internationalnya lebih keren lagi lho. Karena sudah sore, kami hanya sempat makan malam saja. Saya dengan 5 orang teman lainnya sudah menyewa mobil untuk memudahkan kita berpergian. 3 teman saya yang sudah datang duluan pun menjemput kami di airport untuk langsung menuju tempat dinner yang ada di daerah Seminyak. Di tengah perjalanan, mobil kami sempat mengalami mogok di tengah Sunset Road (di depan restoran Sushi Hana) yang untungnya ada beberapa mas-mas (atau bli-bli ya) yang membantu kami mendorong mobil. 

Kami makan malam di sebuah restoran bernama Sardine di Seminyak, karena berdasarkan hasil riset di internet tempatnya oke dan harganya terjangkau. Ternyata oh ternyata ini restoran fine dining, ya harganya sih memang benar terjangkau, namun agak sedikit tidak rela saja membayarnya, hehe. Suasanan hening selama 1 menit saat kami melihat menu, untuk main course harga paling murahnya 180 ribu, untuk appetizer paling murah 100 ribu dan minuman paling murah 30 ribu. Harga-harga tersebut belum termasuk pajak dan service. Setelah bermusyawarah mufakat akhirnya tercapailah kesepakatan untuk memesan 2 main course dan 2 appetizer dan 3 minum untuk 6 orang. Untungnya masih ada complimentary roti-roti dan air putih, jadi kebutuhan makan malam kami lumayan terpenuhi. Tipe appetizernya pun ala-ala master chef dengan porsi yang sedikit sekali, hanya ada sayuran dan beberapa lembar ikan yang diiris tipis-tipis yang membuat hati miris (hey, it rhymes!). Satu hal yang membuat kami kagum adalah para pelayan di sini sungguh baik dan pengertian, mereka tidak merendahkan kita walau hanya pesan segitu, mereka bahkan menaruh semua makanan di tengah karena mereka tahu kita akan berbagi, hehe. Total pengeluaran makan malam itu menghabiskan hampir 900 ribu termasuk tax and service, dengan perut setengah kenyang. 

Dinner for 6


Karena masih kurang fulfilled, kami pun memutuskan untuk melakukan acara ngemil cantik, dan pilihan kami ke Bali Collection di Nusa Dua yang sudah dekat dengan hotel tempat kami tinggal. Bali Collection ini merupakan pusat keramaian di Nusa Dua yang ironisnya tidak ramai malah cenderung sepi, di sini terdapat restoran, dan pusat perbelanjaan lainnya, setelah jajan crepes kami pun pulang ke hotel di Westin Resort Nusa Dua. Oh iya untuk menuju Nusa Dua kami melewati jalan tol Bali Mandara yang merupakan jalan tol yang dibangun di atas laut, ini adalah jalan tol pertama di Bali yang menghubungkan Nusa Dua, Ngurah Rai, dan Benoa. Tol laut ini baru diresmikan Sep 2013.

Room at Westin

Bathroom at Westin


Day 2 - 13 Feb

Tidak ada yang menarik untuk diceritakan karena seharian sampai malam hari acara kantor.

di acata kantor

masih acara kantor


Day 3 - 14 Feb

Wohoo.. Valentine's day lho, ya tidak kenapa-kenapa juga sih. Hari ini adalah jadwal hari kepulangan ke Jakarta untuk teman-teman yang tidak extend. Pada malam sebelumnya saya sempat melihat-lihat di kamar hotel bahwa hotel menyediakan lari pagi di sekitar Nusa Dua dengan guide, setelah mengkonfirmasi bahwa fasilitas ini gratis, maka saya dan Dita pun memutuskan untuk ikut bergabung. Jadwal lari adalah jam 7.30 yang menurut saya agak terlalu siang, tapi ternyata oke juga dan tidak terlalu panas. Kami sudah sampai di bawah sebelum jam 7.30 sehingga harus menunggu dulu, Monica pun ikut bergabung untuk lari pagi bersama kita. Ada 2 pilihan rute untuk 5k dan 8k, kami yang humble ini tentu memilih 5k saja. Ketika sedang pemanasan, ada 2 orang turis bule yang mau ikutan juga, dari penampilannya sih mereka terlihat expert, walaupun sudah lebih tua dari kita. Benar saja mereka memilih rute 8k, dan akhirnya si guide itupun memilih berlari bersama 2 turis bule itu ketimbang bersama kami, ih, bagaimana sih, padahal kan kita sudah datang dukuan!! Sebenarnya lari sendiri tanpa guide juga tidak masalah tapi kan gak gitu caranya, bisa saja kan kita lari dulu bareng lalu nanti mereka bisa lanjut, huh! Anyhow akhirnya kita gak sampai 5k sih karena sudah mendung dan pas sekali ketika kita sarapan hujan turun dengan derasnya.

Setelah sarapan cantik kami pegi ke Krisna pusat oleh-oleh di Bali dilanjutkan dengan makan siang. Letak Krisna ini sangat dekat dengan airport Ngurah Rai, dan tempat ini menurut saya cukup oke untuk mencari oleh-oleh karena tempatnya besar, pilihannya beragam, dan harganya cukup terjangkau. Kami lalu makan siang di Bebek Tepi Sawah yang letaknya ada di depan Krisna juga karena siang itu 2 teman kami sudah harus ke airport. Harga di Bebek Tepi Sawah ini lumayan mahal juga, sekitar 100 ribu per porsi untuk makanan saja, namun rasanya enak dan sambalnya mantap, dan tentunya lebih fulfilling dibandingkan dengan restoran sarden sebelumnya itu. Setelah mengantarkan Agnes dan Monica ke airport, masih ada waktu untuk kami berjalan-jalan sebelum mengantarkan teman kami satu lagi Benny ke airport. Kebetulan ini adalah pertama kalinya dia ke Bali, so okelah untuk mengunjungi tempat yang mainstream. Dengan constrain waktu yang kami miliki, kami pun memutuskan ke Uluwatu dan GWK. Ada biaya masuk ke dua tempat ini, kalau tidak salah 20 ribu rupiah untuk Uluwatu dan 60 ribu untuk GWK. Sebenarnya di pura Uluwatu ini terkenal sekali untuk melihat sunset sambil menonton tari kecak, namun sepertinya itu saya simpan untuk kunjungan selanjutnya ke Bali. Setelah berfoto-foto dengan berbagai pose kami pun ke airport. 

sambel yang mantap

bebek tepi sawah

view di Uluwatu

Uluwatu


GWK

GWK

GWK

Kembali dari airport kami ke pantai Kuta untuk melihat sunset, yang ternyata masih tetap indah dan mempesona, memang paling cocok untuk melihat sunset di Pantai Kuta. Kami lanjut makan malam di Beachwalk Kuta, sebuah mall yang menjual brand-brand seperti di Jakarta, terakhir saya ke bali mall ini belum ada lho. Setelah makan malam kami mengambil mobil sewaan yang akan kami gunakan untuk sisa hari kami di Bali. Kami menyewa mobil Ayla matic dengan harga 260 ribu per hari lepas kunci (tidak termasuk bensin). Kami pun pindah dari Westin Nusa Dua ke hotel lain yaitu Ion Bali Benoa di daerah Tanjung Benoa, hotel yang cukup oke dengan harga sekitar 440 ribu per malam termasuk breakfast. Hotelnya baru jadi kamarnya bagus, nyaman, bersih, so far oke hanya ada satu hal saja yang agak mengganggu yaitu pintu kamar mandi 2 in one untuk tempat mandi dan WC, sampai sekarang masih menjadi misteri kenapa mereka mendesain seperti itu ya. Kami sampai hotel sekitar jam 22.00 malam setelah check-in dan lainnya kami hanya punya waktu tidur 2.5 jam karena keesokan harinya jam 2 pagi kami sudah harus berangkat dari hotel untuk trekking ke Gunung Batur. Jeng jeng.

Sunset at Kuta

The burning sky

kamar mandi dengan pintu 2 in 1


Day 4 - 15 Feb

Kami berangkat jam 2 pagi dari hotel menuju tempat untuk trekking ke Gunung Batur. Pagi itu saya kebagian menyetir dengan mengandalkan google map tentunya dan untungnya setelah sudah dekat ke tempat tujuan ada satu mobil yang cukup reliable untuk diikuti, karena jalannya sudah agak membingungkan. Setelah kami sampai di lokasi, beberapa guide dengan semangat menghjampiri mobil kita dan membatu untuk parkir, eh, begitu saya membuka kaca jendela mobil, mereka pun langsung kecewa ketika mereka tahu bahwa kami adalah turis lokal, mereka pun bergumam "Oh lokal, kirain bule..." Ih, nyebelin banget kan?!  Kami pun akhirnya membayar 250rb per orang untung guide (mahal!!!) entah berapa harganya untuk turis mancanegara ya. Tapi di sini setiap turus yang akan trekking ke gunung batur memang diharuskan bersama local guide, karena yang saya tahu kalau tidak, maka para guide ini akan membujuk sambil menakut-nakuti para turis bahwa di dalam sangat berbahaya, bisa tersasar dan hilang, dsb. Namun untuk kami yang amatiran, sudah tentu kami memerlukan guide yang ternyata cukup oke dan sangat helpful. Lama trekking sekitar 2 jam dengan medan yang lumayan menantang (menurut hemat saya), karena selama 1 jam terakhir kita full tanjakan sampai-sampai saya harus terus berpegangan dengan si guide selama 40 menit terakhir, entah bagaimana nasib saya kalau tidak ada guide, sementara untungnya si Dita lebih mantap dan handal dalam trekking, ini kali ketiga dia melakukan trekking ke gunung batur jadi wajar saja lah. Sampai di puncak, kami melihat sunrise yang sayangnya agak tertutup awan dan kabut tapi saya cukup puas. Selama perjalanan naik ke atas saya sudah berkata dalam hati, aduh nggak lagi-lagi saya mau trekking begini, eh namun ketika sampai atas, puas banget sambil mulai berfikir, mau trekking ke mana lagi ya setelah ini (yang gampang-gampang saja tapinya). Setelah kami berfoto-foto dan tak lupa check-in untuk menunjukkan kami berada di top of the mountain, kami menempuh perjalanan turun dengan rute yang berbeda dengan waktu kami naik dan ditempuh selama sekitar 2 jam juga, lebih landai tapi lebih jauh jadinya. Sampai di bawah ketika akan mengambil kunci mobil, saya baru menyadari bahwa selama ini saya menaruh kunci mobil di bagian paling depan dari backpack dengan resleting yang terbuka, hahaha, story of my life.. beruntung sekali saya kunci mobil tidak jatuh di tengah gunung, Fiuuh..

View from the top

at Mount Batur

masih di Mount Batur

pose EPIC arahan dari guide

at Mount Batur

at Mount Batur

On the way turun ke bawah

on the way back


Setelah lelah naik dan turun gunung, memang paling pas bersantai di hot spring dahulu sebelum melanjutkan aktifitas. Kami menemukan tempatnya yang tidak jauh dari situ bernama Batur Natural Hot Spring dan membayar 60rb (dapat handuk dan loker). Tempatnya lumayan bagus dan ada kolam dengan pemandangan danau batur, kami sendiri cukup beruntung bisa menguasai satu kolam untuk kami sendiri. Ada beberapa tempat pemandian air panas di sini, tapi menurut kami ini paling reasonable. Selesai mandi-mandi cantik, kami pun melanjutkan perjalanan untuk menuju Pura dan Danau Beratan di Bedugul yang merupakan ide saya karena saya ingin mengunjungi tempat ini yang ada di uang kertas 50 ribu. 

Hot spring


Hot Spring

Perjalanan memakan waktu 2.5 jam dimana saya lagi yang kebagian menyetir, awalnya saya sangat excited menyetir (maklum di Jakarta yang ada macet ajah), karena pemandangan di sekitar danau dan gunung batur di Kintamani ini sangat ciamik, scenic banget dan mengingatkan saya dengan pemandangan di New Zealand, memang saya belum pernah ke NZ, tapi menurut saya ini mirip. Pemandangan Gunung dan Danau Batur benar-benar cantik terutama di tengah hari bolong dengan matahari yang bersinar cerah, danaunya berwarna hijau cerah, gunung dan langit biru, bagus sekali pemirsa. 


View danau batur dan gunung batur

Setelah masuk dan keluar kira-kira 10 desa di Bali, karena perut sudah lapar kami makan dulu di sebuah restoran bernama Bali Strawberry, tidak terlalu spesial sih dengan harga yang tidak terlalu mahal. Ada tiket masuk seharga 10 rb dimana terdapat taman, pura dan danau di situ. Sayangnya cuaca di sore hari itu sudah agak mendung, sehingga fotonya juga tidak terlalu bagus, tapi it's okay karena pertama kalinya untuk kami berdua ke sana. Saya pun sempat sholat di sebuah masjid di dekat situ namanya Masjid besar Al-Hidayah. Sesuatu banget untuk dapat menemukan mesjud besar di Bali. Kami pun kembali ke hotel dengan lama perjalanan sekitar 2 jam (again!). Perlu diketahui saya dan Dita sama-sama tidak handal dalam hal direction, sehingga walaupun kami bergantian menyetir, salah satu dari kami tidak bisa tidur karena harus bertugas sebagai navigator, alhasil begitu sampai hotel kami pun langsung beristirahat karena sudah dari pagi sekali beraktifitas hari itu.

Masjid

Pura dan Danau Beratan


Day 5 - 16 Feb

Setelah trekking, hari ini pun lagi-lagi kami memilih aktifitas fisik yaitu Rafting. Ada beberapa spot rafting di Bali dan kami melilih provider Sobek Rafting di sungai telaga waja. Kami lagi-lagi harus menyetir selama 2 jam untuk sampai ke lokasi rafting. Kami membayar 350 ribu per orang (mahal!!) dan itu pun konon katanya sudah harga turis lokal, entah kami kurang jago menawar atau memang harga untuk turis asing mahal banget. Ini merupakan kali kedua saya rafting, yang pertama sudah lama banget sekitar tahun 2006 dan kesan saya dulu sih seru banget. Kami menyusuri sungai sepanjang 10 km yang ditempuh selama 2 jam perjalanan. Karena hanya berdua kami pun digabung dengan 2 orang turis lain yaitu 2 cewe berasal dari Jepang (kakak adik) yang berbadan super kecil. Tiap boat/raft ditemani oleh 1 orang guide. Sebelum pergi ada sebuah briefing singkat dan guide pun memberitahukan beberapa aba-aba yang akan diberikan selama perjalanan, seperti aba-aba mendayung maju, mundur, merunduk, bergeser ke depan/belakang, menggoyang-goyangkan kapal, dan lainnya. Untuk setiap kapal disediakan 1 tas waterproof yang bisa kita gunakan untuk menaruh barang-barang berharga. Overall rafting kali ini cukup seru namun menurut saya sih kurang memacu adrenalin, entah apakah standar keseruan saya sudah berubah atau memang kurang menantang. Ada satu hal lagi, boat kami cukup sering menyangkut yang saya duga disebabkan karena bebannya kurang berat, tentunya karena 2 orang cewe Jepang berbadan kecil itu, pesan moral, kalau bisa memilih, sebaiknya pilihlah orang-orang dengan badan yang lumayan besar di dalam satu boat sehingga lebih mulus jalannya dan tidak sering menyangkut. Kalau menyangkut maka kita harus menggoyangkan kapalnya yang aba-aba bahasa Jepangnya adalah "hira-hira" yah lumayan deh dapat satu vocab bahasa Jepang. 

Team Rafting

Sungai Telaga Waja

Sungai Telaga Waja


Selesai rafting kami makan siang yang sudah disediakan, harga termasuk makan siang ya. Pilihannya adalah makan prasmanan dengan menu masakan Indonesia. Di tempat ini kita juga disediakan kamar mandi dan handuk. Saya pun tak lupa menumpang sholat di sini karena khawatir akan susah menemukan musholla atau mesjid di tempat lain. Perjalanan kami lanjutkan ke Pura Besakih karena sepertinya sudah dekat situ dan terkenal sebagi kompleks pura terbesar di Bali yang menjadi salah satu pengalaman yang tidak mengenakkan selama di Bali. Andai saja saya mengecek ke situs tripadvisor ya..

Pura Besakih

Pura Besakih

Pura Besakih

Pura Besakih

Lama perjalanan sekitar 1 jam untuk sampai ke Pura Besakih, sampai di sana kami harus memarkir mobil di tempat parkiran lalu kami pun membeli tiket masuk. Harga tiket masuk official 15 ribu per orang (ada tiketnya) dan tambahan 5 ribu untuk parkir mobil. Begitu hendak masuk ke dalam, ada beberapa orang yang memberhentikan kami, mereka bilang bahwa untuk mengunjungi pura besakih wajib menggunakan local tour guide dengan alasan tempatnya luas, terdiri dari banyak pura dan tidak semua pura boleh dimasuki sambil menunjukkan peta kawasan pura besakih kepada kami, kami pun setuju saja. Lalu mereka bilang tidak ada harga fixed untuk tour guide ini tapi mereka memberikan contoh bahwa orang sebelum kami membayar 300 ribu. heh! yang boneng aja!!! super aneh, katanya boleh membayar berapa saja, tapi kami menawarkan 20 ribu tidak mau. Akhirnya setelah tawar-menawar harganya adalah 60 ribu per orang, yang menurut saya juga mahal. Ketika akan masuk ada beberapa tukang ojek yang menawari untuk naik ojek ke dalam karena katanya jauh, dengan harga 30 ribu. Kami yang memang suka berjalan dengan halus menolak tawaran tersebut, dan ternyata tidak terlalu jauh, kurang dari 1km, memang sih jalannya agak menanjak tapi masih ok lah. Di sepanjang perjalanan ada beberapa orang juga menawari sarung dan bilang semua yang masuk ke pura harus pakai sarung, hellooo, kami berdua pakai jilbab dan rok panjang, kenapa juga masih ditawari sarung? Kurang sopan apanya coba?? Masih ada juga beberapa wanita yang memberikan kami bunga yang katanya harus dipakai di dalam dan katanya gratis, ok, karena gratis saya ambil. Baru berjalan 2 langkah mereka memaksa untuk membeli sesajen dan ketika kami menolak mereka meminta bayaran untuk bunga-nya, hadehh, saya pun bete setengah mati dan saya kembalikan saja bunga-nya. Benar-benar keterlaluan tempat ini. 

Sampai ke dalam, ya lumayan bagus sih tempatnya, memang pura terbesar yang pernah saya lihat selama di Bali, namun ternyata tidak sebesar dan seluas yang mereka bilang dan tidak semua tempat boleh masuk kecuali untuk yang beribadah dan bersembahyang di situ. Si guide sebenarnya menawari kalau orang dari agama yang berbeda juga boleh berdoa di pura, namun saya tidak merasa nyaman juga beribadah di tempat ibadah agama lain dan mungkin sudah terlanjur ilfil sama keanehan-keanehan sebelumnya. Guide juga menjelaskan sejarah dan budaya masyarakat bali dalam melakukan ritual ibadah, cukup menarik tapi tidak cukup worth it untuk 60 rb per orang dengan tempat yang sekecil itu. Selesai tour, si guide masih lho meminta tips yang akhirnya kami berikan 30 rb. Dari semua guide yang kami beri tips (guide gunung batur, rafting) tidak ada satupun dari mereka yang meminta. Akhirnya setelah kami hitung, total kami mengeluarkan hampir 100 ribu per orang, it's a total rip off!! Saya tidak dapat membayangkan berapa untuk turis asing, pasti lebih mahal, sorry to say ya, harga tiket masuk angkor wat saja USD 20 untuk tempat yang seluas itu, dengan temple yang super banyak, dan nilai historis yang lebih. Saya benar-benar merasa miris, kenapa bisa begini pariwisata negeri sendiri, padahal Kamboja juga negara asia, yang merdeka beberapa tahun setelah Indonesia, kenapa mereka bisa lebih handal dalam mengelola pariwisatanya? Hanya ada satu hal baik dari kunjungan ke pura besakih ini yaitu kami berdua membeli sebuah celana yang lucu dan unik. Itu saja. Sekembalinya saya ke Jakarta, saya langsung mengecek ke situs Tripadvisor dan ternyata sudah banyak sekali review jelek mengenai tempat ini, bahkan banyak dari turis menyebut tempat ini dikelola oleh mafia. Nah, di sini saya benar-benar merasa sedih.

Ini celana lucunya
Rencana kami selanjutnya adalah ke pantai Pandawa yang pemandangannya cukup keren ketika saya lihat di internet dimana di jalan menuju pantai ada tebing-tebing yang tebuat dari batu kapur. Namun ternyata kami tiba di sana agak kesorean dimana sudah sunset, sehingga pemandangan keren tersebut tidak seperti yang diharapkan, hanya gelap saja, tapi ya sudah lah. Kami lalu lanjut makan malam di restoran Bebek Bengil di daerah Nusa Dua.

Driving towards the sunset - at jalan tol laut


View of Pandawa Beach (what's left from it)

Nasi Bali


Day 6 - 17 Feb

Ini adalaha hari terakhir kami di Bali dan agenda kami adalah ke Ubud, yang mana saya juga belum pernah ke sini. Ubud menjadi super beken sejak film Eat Pray Love tahun 2010, banyak sekali turis lokal maupun asing yang pergi ke Ubud baik itu untuk liburan maupun untuk tinggal di Ubud demi mencari ketenangan jiwa. Kalau saya sih simply karena belum pernah dan yah, sedikit terinspirasi film itu juga sih, kami berdua mendambakan naik sepeda di Ubud menyusuri desa dan persawahan. Pagi hari kami berkendara sekitar 1.5 jam untuk sampai di pusat Ubud. Kami pun menemukan sebuah hotel bernama De Mank yang menyewakan sepeda seharga 25 ribu per orang yang langsung kami setujui tanpa di tawar lagi (padahal harga sewa sepeda di Vietnam atau Kamboja adalah 1 USD untuk seharian). Tujuan kami hari itu hanya satu yaitu bersepeda di sawah dan berfoto tentunya. Kami pun bertanya kepada polisi dan ke kantor pariwisata dan saran mereka adalah bersepeda ke arah utata, oke deh. Kami pun bersepeda selama kurang lebih 1 jam lamanya dengan medan yang mendaki sehingga seringkali kami harus turun dari sepeda dan mendorong sepeda kami kalau tidak ingin betis kami pecah. haha. Cuaca pun sedang panas-panasnya kami pun hampir menyerah karena belum juga menemukan sawah yang layak foto. hahaha. Akhirnya ketemu juga sih dan setelah berfoto-foto dan mempost di social media (so shallow), kami pun kembali ke pusat kota Ubud. Saya amat sangat menikmati perjalanan pulang ini karena jalannya menurun, ini benar-benar salah satu momen membahagiakan dalam hidup saya (kasian amat..) menyenangkan sekali bisa meluncur bersepeda dengan hembusan angin menerpa wajah kita sambil melepas kedua tangan, momen I'm feel free ala Syahrini banget deh. Tidak sampai 15 menit kami sudah sampai lagi di bawah.

Tempat sewa sepeda

tourism office di Ubud

Main di sawah

sepeda (obviously)

ya masih di sawah

still sawah

jalanan di Ubud sudah bagus

Karena waktu tidak banyak kami pun hanya sempat mengunjungi 1 museum dan makan siang. Kami ke Museum Puri Lukisan, yang letaknya dekat situ. Kami membayar 75 rb yang sudah termasuk 1 minuman. Saya memang suka mengunjungi museum dan walaupun tidak besar sekali, tempatnya cukup oke, ada beberapa ruang pameran lukisan dan tempatnya juga asri dengan banyak pepohonan rindang. Ini merupakan pertama kalinya saya mengunjungi museum lukisan di Indonesia, cukup menambah khasanah pengetahuan juga karena bisa melihat lukisan-lukisan dari seniman negeri sendiri. Kami lalu makan siang di sebuah restoran bernama Pizza Bagus. 
salah satu lukisan

Museum Puri Lukisan


tired face after biking

il mio pranzo

Saya merasa kunjungan saya ke Ubud ini masih jauh dari memuaskan karena saya belum sempat mengeksplore Ubud, sepertinya memang harusnya menginap di sini sehingga bisa bersepeda dari pagi dan juga bisa berjalan-jalan untuk mengeksplore museum, restoran, toko-toko. art gallery yang ada di situ, ok, untuk kunjungan berikutnya saya ke Bali yaaa.

Nah, itu dia pengalaman saya selam trip di Bali kemarin yang overall memuaskan dan menyenangkan, saya selalu senang mengunjungi tempat baru dan melakukan hal-hal baru. Cukup banyak aktifitas berbau fisik yang saya lakukan, sebenarnya sih awalnya tidak niat, tapi karena saya malas mikir dan memang semuanya belum pernah saya lakukan sebelumnya saya setuju aja dengan usulan Dita, trekking ke gunung batur mau ga? Mauuuu. Rafting? Mauuu. Hehehe. Mungkin yang membuat trip ini menyenangkan adalah segala sesuatunya dibawa enjoy saja, oh dan tentunya karena tiket pesawat yang gratis juga sih. Hehehe.


3 comments:

Anonymous said...

Cuy nama gw cuman disebut sekali dsini.. bagian jemput ke erpot cuman disebut 3 teman aja... kecewaaaa...

Niantiaulia said...

Kamu siapa ya kok anonymous..hehehe yg penting ada fotonya kan? Hehehe

si ona said...

serunyaaaaaaaa
setuju,, ga usa mikir memang enakk, tinggal ikuttt