Wednesday, January 11, 2012

Get lost in Marrakech


Akhirnya saya menjejakkan kaki di benua Afrika, wohoo, how cool was that? Ya, saya mengaku bahwa alasan saya pergi ke Marrakech adalah sesederhana itu dan sedikit 'lame'. Bermula ketika ada acara baksos di kantor ke sebuah sekolah, di sana saya melihat sebuah peta dunia dimana saya baru menyadari bahwa Maroko ternyata sangat dekat dengan Eropa, khususnya Spanyol. Langsung terbersit pemikiran, alangkah kerennya kalau saya pernah ke Afrika, yah biarpun hanya satu negara, satu kota dan beberapa hari saja. Begitu sampai kantor saya langsung cek apakah kita WNI memerlukan visa untuk bisa ke Maroko, dan ternyata tidak perlu! Sebagai WNI kita bisa berkunjung ke Maroko tanpa visa maksimum 90 hari.
Selanjutnya saya mulai mencari tiket penerbangan ke kota manapun di Maroko, saya tidak ada preferensi kota tertentu maka saya mencari-cari mulai dari Fez, Casablanca, Rabat, dan Marrakech yang merupakan kota-kota besar di Maroko, saya mengkombinasikan dengan pilihan kota di Spanyol seperti Barcelona dan Madrid, pokoknya yang manapun yang murah akan saya pilih. Hehe. Akhirnya ketemu juga tiket pesawat yang termurah dari Madrid, pergi naik Ryan Air, kembali ke Madrid dengan Easy Jet. Setelah melongok kembali ke itinerary awal akhirnya berhasil juga menyelipkan 3 hari di Marrakech ini. So excited.


Koutoubia Mosque

Impressions

Marrakech membuat perjalanan saya menjadi lebih berwarna. Bukan hanya cuacanya yang berbeda dengan negara-negara di Eropa pada umumnya, suasananya pun jauh berbeda, hey ini Afrika. Satu hal yang cukup menyenangkan karena ini negara muslim, penampilan saya di sini tidak akan dianggap aneh oleh orang-orang dan tentu akan lebih mudah menemukan mesjid untuk sholat. Satu hal yang langsung saya sadari begitu tiba, bahasa Prancis merupakan salah satu bahasa resmi yang dipergunakan secara luas di sini. Semua tanda dan petunjuk dalam dua bahasa, arab dan Prancis, bukan Inggris. Saya merasa sedikit terintimidasi karena sepertinya semua orang bisa bahasa Prancis, mulai dari bapak-bapak, ibu-bu, mas-mas di pasar, anak kecil, orang tua, semua bisa, saya yang tidak bisa bahasa Prancis jadi gimana gitu. Hal ini disebabkan sebagai mantan kolonial Prancis, bahasa Prancis diajarkan sejak dulu mulai dari bangku sekolah, namun beberapa tahun ini bahasa Inggris sudah mulai diajarkan di sekolah juga sehingga anak-anak generasi baru nantinya akan bisa 3 bahasa, arab, Prancis dan Inggris. Hebat. Marrakech terdiri dari 2 bagian, old town (medina) dan new town. Di medina ini terdapat square terbesar dan terheboh yang dimiliki Marrakech yaitu Djema El Fna, dan tempat-tempat menarik kebanyakan ada di medina, sedangkan bagian kota yang modern seperti mall, perkantoran, dll ada di new town di luar dari tembok yang melingkari medina.

Dinding yang membatasi Old dan new town

Sebenernya banyak traveler yang ke sini untuk ikut tour ke sahara desert, saya bertemu dengan 3 orang cewe dari Malaysia yang sekamar dengan saya di hostel, dan mereka baru saja kembali dari tour sahara tersebut. Berdasarkan informasi dari mereka perjalanan ke sana one way sekitar 8 jam dengan mobil, saya pun langsung tidak tertarik karena saya tidak mau terlalu capek dan ingin enjoy di trip ini saya ini, saya punya waktu 3 hari di Marrakech yang sebenarnya cukup kalau saya mau, tapi tentunya akan menjadi perjalanan yang melelahkan, lagi pula saya sendiri sudah pernah ke padang pasir sebelumnya yaitu di Vietnam, suatu tempat bernamaa Mui Ne, ya bukan Sahara tapi mirip lah pemandangannya, cuma kurang naik onta saja,  serta bermalam di padang pasir dengan api unggun.

How to get there and accommodation

Saya naik pesawat dari Madrid jam 06.25-06.40, terdapat perbedaan waktu 1 jam dengan antara Madrd dan Marrakech. Ini pertama kalinya saya naik maskapai Ryan Air dimana mereka mempunyai ketentuan membawa 1 handcarry dengan ukuran tertentu dan berat maksimum 10 kg, saya yang mempunyai 2 tas harus memasukkan tas saya satu lagi agar hanya ada 1 bawaan. Sempat agak ragu apakah tas saya di bawah 10 kg, namun ternyata gak ditimbang. Sedikit tips, dalam keadaan terpaksa kamu bisa memakai semua baju-baju yang kamu bawa jika takut kelebihan berat.

Tiba di Marrakech tepat waktu, saya langsung mencari mushola dulu untuk sholat subuh, yang saya yakin pasti ada karena Maroko negara Islam. Ternyata tidak ada ruangan bernama mushola melainkan Lieu de culte, yang entah apa artinya pokoknya bisa sholat di situ. Saya cukup terkesan dengan airportnya, tidak terlalu besar namun cukup megah dan artistik. Airport ini sempat dipakai syuting film Sex and the City 2 namun diakui sebagai Abu Dhabi.

Merara Airport

Menara Airpot, Marrakech

Mushola di airport

Saya naik bus no 19 dari airport yang membawa saya ke pusat kota yaitu Djema El Fna. Harganya cukup murah 30 Dh (IDR 30,000) untuk dari dan kembali ke airport. Awalnya saya cukup khawatir karena ini bukan eropa, dari segi fasilitas kota dan orang-orangnya sudah tentu berbeda. Namun saya sudah mengumpulkan petunjuk dari hostel tentang bagaimana cara mencapai hostel. Dari penjelasannya tampak cukup jelas. Nama hostel Amour D’Auberge dan saya sudah booking dari Jakarta, semangat banget mau ke Maroko langsung booking hostel. Lokasinya dekat dengan Djema El Fna. Begitu turun dari bus, saya sempat agak bingung ke arah mana harus berjalan, karena Djema El Fna sangat luas dan banyak sekali cabang jalan di pinggirannya. Saya mau mencoba menelepon di telepon umum ternyata hanya bisa pakai kartu, sayapun akhirnya bertanya pada beberapa bapak-bapak yang sedang bermain catur dimana Toubkal Cafe (sesuai petunjuk dari hostel) dan saya percaya saja dengan mereka dan mereka ternyata memberikan petunjuk arah yang tepat sehingga akhirnya mengikuti petunjuk hostel bisa sampai ke tujuan, sekitar 5 menit berjalan kaki dari Toubkal Cafe tersebut, saya pun cukup bangga dengan diri sendiri karena bisa menemukan hostel ini dengan smooth walaupun hostelnya di gang yang kecil sekali.

Hostelnya oke, mas-mas petugas hostelnya baik, saya tiba pagi hari dan mendapatkan sarapan di hari pertama itu padahal  seperti peraturan hostel pada umumnya saya seharusnya belum berhak mendapatkan sarapan gratis. Sarapan berupa 2 buah roti lengkap dengan butter dan madu, ditambah minuman jus jeruk dan teh / kopi. Mas hostel juga memberikan saya peta Marrakech gratis. Wifi ada di lobi namun karena kamar saya dekat lobi saya masih kebagian sinyal wifi jika di dalam kamar, sementara itu mereka juga satu komputer yang bisa digunakan. Ketika di Marrakech saya kebetulan sedang menderita batuk-batuk (sudah mulai sejak di Barcelona sebenarnya) lalu mas hostel pun menyarankan saya untuk meminum obat batuk miliknya, yang ternyata cukup manjur. Harga kamar per malamnya EUR 8 dan saya memilih dorm khusus cewe, kamarnya biasa saja, lampunya agak gelap namun untung saya membawa head lamp yang ternyata amat berguna (better than flashlight, I daresay), untuk kamar tidak dikunci namun di bawah tempat tidur terdapat loker besar yang dapat digunakan untuk menyimpan barang-baranh berharga. kebersihan kamar juga standar namun masih oke. Kamar mandi dan toilet sharing untuk wanita dan pria.

hostel Amour D’Auberge

Common room hostel Amour D’Auberge

Sarapan ini setiap hari

Kamar di Amour D'Auberge

Keyboardnya ada bahasa arab

Things to do and see

Day 1 (24 Sep 2011):

Djema El Fna merupakan main point of interest dari kota ini.  Merupakan sebuah square yang sangat luas yang menjadi pusat kehidupan warga sini. Terdapat berbagai toko, restoran, penjual makanan dan minuman di sini, namun anehnya, mobil, motor, delman, sepeda, manusia, siapapun boleh lewat di sini dan berseliweran sesuka hati dengan berbagai arah. Tidak seperti square di negara lain dimana biasanya dibatasai hanya untuk pejalan kaki dan sepeda saja, di sini jangan heran ketika sedang berjalan di tengah-tengah tiba-tiba mendengar klakson mobil yang ingin lewat, harus extra hati-hati juga karena kadang mereka tidak mengurangi kecepatan. Pada siang hari keadaan masih biasa saja, tapi tunggu sampai malam dan ini barulah luar biasa, selepas matahari tenggelam tempat ini akan di sulap menjadi bazaar makanan yang sangat besar. tipe makanan yang disajikan kurang lebih sama, yaitu kebab, namun ada ratusan stand makanan. Untuk minuman biasanya jika kita makan di stand itu akan diberikan minuman gratis berupa teh hangat, tehnya yang khas di sini adalah teh rasa mint. Selain makanan ada juga pasar kaget yang menjual berbagai barang, ada juga minuman, jus jeruk paling oke seharga 4 Dh (sejak siang sudah ada), bumbu masak, baju, suvenir, peralatan masak, tas, sepatu, dan barang-barang terbuat dari kulit, di sini bertebaran juga street show seperti sulap, pertunjukan musik, judi, dll. Suasanya sangat hidup dan ramai dan ini berlangsung setiap hari, bukan hanya akhir minggu. Seru tapi agak serem juga terutama buat cewe kalo sendirian ke sini karena saking banyaknya orang di sini harus ekstra hati-hati menjaga barang-barang milik kita dan menjaga diri dengan baik.

Djeema El Fna siang hari, kendaraan bisa berseliweran

Ada KFC

Djeema El Fna siang hari

Kantor Pos

Djeema El Fna pada malam hari

Hal menarik kedua di Marrakech adalah pasar (souk). Benar-benar surga belanja bagi yang tertarik, barang-barang kulit asli banyak di jual di sini dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan di tanah air. Tentunya diperlukan keahlian menawar untuk mendapatkan hasil terbaik. Souk ini sangat luas dan berliku-liku bak labirin dan saya berani menjamin siapapun pasti pernah nyasar ketika masuk sini. Sekedar tips belanja, jika bertemu suatu barang yang memang kamu suka, langsung coba tawar dan beli (kalau suka) saat itu juga, jangan ditunda karena akan sangat sulit untuk menemukan toko itu lagi kalau sudah jauh. Saya pun pernah nyasar di tengah souk. Pada hari pertama ini saya bermaksud untuk ke museum (Marrakech Museum) yang ada ditengah pasar (berdasarkan peta), saya pikir jika saya berjalan lurus terus saja saya akan menemukan museum itu, namun ternyata tidak mungkin berjalan lurus karena bentuk pasar yang seperti labirin dan banyak belokan yang terpaksa harus diambil, awal-awal masih mencoba mengingat kemana saya berbelok, namun setelah beberapa kali saya sudah lupa sama sekali dan rasanya tidak mungkin saya akan menemukan muesum itu tanpa bantuan orang lain. Saya pun lalu bertanya kepada seorang lelaki (di pasar ini semua penjualnya lelaki, tidak ada wanita yang berjualan), dia pun lalu dengan baik hati menunjukkan jalan bahkan ikut mengantarkan saya sampai ke tujuan, wow, baik sekali bukan? Tunggu dulu, setelah sampai dia pun meminta uang pada saya (pastinya..), saya lalu merogoh kantong dan hendak memberikan 10 Dh (IDR 10,000), jumlah tersebut wajar untuk tips karena perjalanannya tidak terlalu jauh, namun ketika merogoh kantong dia sempat melihat saya punya uang pecahan 50 Dh dan dia pun meminta saya memberikan itu dan dia akan mengembalikan 20 Dh. Intinya dia minta 30 Dh, saya tentu tidak rela dan tetap berusaha menawar, akhirnya dia mengembalikan 30 Dh. Hal-hal seperti ini sangat mungkin terjadi dimana orang terkesan baik dan menolong namun motivasi utamanya adalah meminta uang.

Things you can find in the souk
Souk atau Pasar
Pada hari itu juga ketika saya sedang mengunjungi Mesjid Koutoubia, ada seorang pemuda yang menawarkan one day tour around the old city (medina) dengan berjalan kaki. Saya lalu bertanya berapa tarifnya da dia bilang 70, saya pikir 70 Dh dan ya mungkin boleh juga harga segitu, hampir saya mengiyakan ketika saya konfirm lagi dia bilang maksudnya adalah EUR 70, saya pun langsung ilfeel. plis deh, pertama, total euro yang saya tukar ke dirham adalah EUR 80 yang saya budgetkan cukup untuk 3 hari saya di sana, yang kedua jumlah segitu sudah bisa digunakan untuk tour ke sahara desert, lah ini cuma jalan kaki doang gitu lho. Saya pun langsung menolak dan dia berusaha bertanya saya mau tawar berapa, yang benar saja, dengan tawaran semahal itu saya tahu orang ini gak mungkin punya niat baik, saya pun meninggalkan dia. Hal-hal inilah yang membuat saya berkesimpulan solo traveling ke sini tidak untuk semua wanita. 

Koutoubia Mosque

Koutoubia Mosque

Koutoubia Mosque
Pagi hari setelah sarapan dan mengupdate twitter (sangat penting..) saya membeli air minum di warung (tap water tidak bisa diminum). Hari pertama ini saya habiskan dengan berjalan-jalan di medina, saya ke souk untuk melihat-lihat , lalu ke Koutoubia mosque, mesjid terkenal di Marrakech dengan minaret yang sangat tinggi yang kadang diibaratkan seperti menara Eiffel untuk Paris. Di sini saya bertemu dengan pasangan suami istri yang menawarkan untuk memfotokan saya, suaminya berasal dari Maroko dan istrinya Shanaz asal Afsel. Mereka seorang muslim juga dan tinggal di Belanda dan sedang liburan di sini, kami mengobrol sebentar dan mereka memberikan nomer telepon mereka. Saya lalu ke Marrakech Museum, Saadian Tombs, Ben Youssef Madrassa (bekas sekolah dan asrama). Koleksi di museum ini tidak terlalu banyak dan agak kurang dimantain dengan baik, berbeda dengan museum-museum di Eropa, namun bangunannya bagus dan cantik, khas Maroko, dan cukup bagus untuk difoto. Suasananya juga sangat tenang, sangat berbeda dengan keadaan di luar di souk yang ramai, tempat yang pas untuk menenangkan diri dan merefresh diri dari kebisingan dan kesemrawutan di luar sana. Ketika itu seperti yang saya ceritakan sebelumnya saya menderita batuk akut, sebelum pergi saya sempat meminum obat batuk yang ternyata membuat saya jadi mengantuk berat dan kantuk itu menyerang dengan kuat ketika saya berada di Marrakech Museum yang tenang itu. Saya pun duduk di situ dan tanpa terasa saya mulai ketiduran di dalam museum, setelah terbangun dengan keadaan masih mengantuk saya langsung kembali ke hostel, secara ajaib saya bisa keluar dari labirin souk tersebut padahal sudah sangat pesimis. Untuk keluar saya hanya perlu bertanya sekali kepada seorang bapak tua yang memberikan arahan yang tepat.


Marrakech Museum
Merdesa Ben Youssef
Sampai di hostel sore hari saya pun langsung tidur sampai hari gelap, dan baru bangun ketika ada bebearapa orang baru datang masuk ke kamar. Mereka ini adalah 3 orang cewe asal Malaysia yang sedang melakukan liburan keliling Eropa dan baru saja kembali dari tour sahara desert. Saya pun mengobrol dengan salah satunya dan kami pun makan malem bersama di Djema El Fna. Saya lalu ikut mereka berbelanja. Ini merupakan malam terakhir mereka di sini sehingga mereka mau memanfaatkan sebaik-baiknya untuk belanja, tipikal cewe lah ya. Kalau tidak sedang dalam perjalanan panjang seperti ini saya mungkin juga akan tertarik untuk belanja di sini, tapi keadaan tidak memungkinkan, pertama saya tidak ada tempat untuk membawa belanjaan dan tidak mau membawa-bawa belanjaan berat sepanjang sisa perjalanan saya yang beru dimulai, kedua saya tdak ada budget untuk berbelanja. Cewe-cewe Malaysia itu sangat niat sekali berbelanja, mereka memborong banyak barang mulai dari sepatu, tas, pernak-pernik, dompet, sampai alat masak dang peralatan makan. Karena waktu mereka terbatas mereka bahkan meminta mas hostel mengirimkan belanjaan mereka lewat pos.

Suasana Djema El Fna malam hari

Sish Kebab

Stand makanan di Djeema El Fna

Kue-kue manis

Saya, Malaysian girls, dan Sam, salah satu mas hostel



Day 2 (25 Sep 2011):

Di hari kedua ini saya mebgunjungi El Badia Palace dan El Bahia Palace, yang pertama merupakan peninggalan istana kerajaan pada masa lalu dan hanya tersisa reruntuhan bangunan sedangkan Bahia merupakan istana atau tempat tinggal para bangsawan Maroko di abad ke 19.

Badia Palace

Bahia Palace

Saya berjalan kaki untuk menuju kedua tempat yang tempatnya tidak terlalu jauh, namun tidak terlalu sulit, sempet ada nyasar juga tapi tidak terlalu jauh dan tidak perlu sampai membayar orang seperti hari sebelumnya. Setelah itu siang hari saya sholat di Koutoubia Mosque, ternyata di sini sendal/sepatu tidak ditaruh di luar dan tidak ada tempat penitipan, jadi setiap orang harus membawa kantong plastik sendiri untuk menarh alas kaki di tas masing-masing. Oh iya, hanya muslim yang boleh masuk ke dalam mesjid ini. Setelah makan siang saya mencoba naik bus no. 1 hanya untuk iseng aja, saya cuma naik sampai ujung lalu balik lagi dengan bus yang sama, pak supir agak bingung kenapa saya tidak turun, saya pun membayar lagi dan ikut kembali ke tempat awal. Tapi ini tidak sia-sia karena dengan naik bus no. 1 ini saya jadi berkesempatan melihat bagaimana new town dari Marrakech yang berada di luar tembok pembatas. Keadaannya sungguh berbeda dengan di medina, ya jangan di bayangkan modern sekali seperti di Jakarta kota metropolitan sih, namun cukup banyak toko-toko modern, restoran bagus, fast food terkenal, dan mal. Bahkan ada toko baju terkenal Zara lho (wajar karena Zara merk asal Spanyol). Total perjalanan kira-kira 40 menit untuk bolak-balik. Setelah itu saya turun di  halte dekat mesjid Koutoubia yang sangat cantik di malam hari dengan disirami cahaya lampu, saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengambil beberapa foto mesjid di waktu malam. Saya lalu melihat-lihat suasana di Djema El Fna yang ramai bak pasar kaget, saya lalu makan malam di sebuah restoran di pinggiran Djema El Fna.

Marrakech New Town

Koutoubia Mosque ketika Maghrib

Sholat Maghrib berjamaan di Koutoubia
 
Day 3 (26 Sep 2011):

Hari ketiga ini agak santai, tujuan saya ingin ke Majorelle garden, waktu hari pertama saya pernah bertanya ke mas hotel bagaimana cara ke situ dan katanya kalau mau ke sini naek bus, dan menunggu di halte dekat mesjid Koutoubia. Namun saya tidak menemukan nomor bus yang di maksud di halte itu dan saya juga sudah mencoba mencari di halte lain deka situ tapi tetap tidak ketemu. Akhirnya setelah menganalisa peta akhirnya saya memutuskan untuk naik bus no. 1 lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki yang ternyata bisa dicapai dengan 40 menit berjalan kaki one way, yah lumayan lah. Petannya juga cukup jelas dan saya sempat mampir bertanya di tourist information centre yang cukup helpful, mungkin ini bedanya antara old town dan new town. Setelah berjalan akhirnya sampai juga di Majorelle. Tamanya ternyata tidak begitu luas, dan bagi saya jenis tanamannya tidak terlalu unik karena saya juga bisa menmukannya di Indonesia. Yang menarik adalah koleksi kaktus yang mereka miliki karena kaktusnya besar-besar dan bentuknya lucu-lucu, ada yang bulat gendut, ada yang besar dan tinggi. Namun tempatnya tepat sekali untuk bersantai karena suasananya sepi, tenang, saya pun sempat duduk-duduk tanpa melakukan apa-apa, hanya menikmati suasana yang adem, dengan bunyi gemersik angin dan kadang ada kicau burung. Very relaxing. Yang rada aneh di sini ada juga museum untuk YSL, iya Yves Saint Laurent yang perancang ternama itu. Selepas dari sini saya sempat berjalan-jalan lagi di new town dan makan di salah satu fast food di sini, sore hari saya kembali ke medina.

Majorelle Garden

Keeseokan harinya saya akan naik pesawat menuju Madrid, pesawat saya jam 11.45, saya naik bus no. 19 lagi untuk menuuju ke airport. Bus ini ada setiap 30 menit sekali dan sempat ada adegan saya berlari-lari karena takut ketinggalan bus karena waktunya sudah sangat mepet.

Budget and other tips

* Sebaiknya simpan dompet dan dokumen-dokumen penting di hostel, bawalah uang secukupnya dan ditaruh di kantong saja karena ketika kamu akan membayar sesuatu akan menarik perhatian jika kamu mengeluarkan dompet, apalagi kalau dompetnya besar.
* Naik bus 19 dari dan ke airport lebih murah daripada taksi, 30 Dh (IDR 30,000) untuk bolak balik, untuk one way 20 Dh.
* Daripada ikut tour hop off hop on bus (sekitar EUR 14) lebih baik mengexplore Marrakech dengan berjalan kaki, mahal dan apa serunya kalau ke Marrakech tapi gak pernah nyasar di Souk?
* Ketika mau bertanya mengenai arah atau apapun opsi paling tepat adalah ke orang hostel, kalau mereka tidak ada coba tanya ke sesama traveler (biasanya gampang dikenali), kalau tidak ada juga coba tanya ke orang yang agak tua atau yang punya toko dan sedangg menjaga toko sendiri sehingga dia tidak mungkin meninggalkan tokonya dan ikut kita memberi petunjuk jalan dan mengantarkan kita sampai tempat yang dimaksud karen ujung-ujungnya minta duit.
* Berhati-hati lah jika ada orang yang tidak dikenal mengajak ngobrol, use your instict.
* Hindari berjalan-jalan di tempat yang sepi atau keluar pada waktu larut.
* Sebaiknya menukar uang di airport agar lebih mudah dibandingkan menukar di tengah kota 1 EUR = 11 Dh, atau 1 Dh = IDR 1000.
* Sangat harus mencoba jus jeruk di Djema El Fna, harga hanya 4 Dh tapi jusnya benar-benar fresh, enak, terasa sekali jusnya. Saya bisa minum jus jeruk ini setiap harinya, bahkan bisa beberapa kali sehari. Sluuuurrpp.

Jus jeruk favorit

Jus jeruk ter-enak

Actual Expense


1. Hostel Amour D'Auberge (3 malam): EUR 24
2. Inter city transport: EUR 3.86
3. Meal dan jajan: EUR 27.5
4. Miscellaneous (obat batuk, scam, kirim postcard): EUR 9.68
5. Sightseeing (Museum, Medresa, Palais Badi and Bahi, Majorelle): EUR 11.43
TOTAL: EUR 76.01

Biaya di Marrakech cenderung lebih murah dibandingkan negara eropa lainnya, walaupun harga makanan tidak terlalu berbeda jauh.

Ya, demikian adanya cerita dari tanah afrika, hehehe. Semoga Marrakech bukan satu-satunya negara di Afrika yang saya kunjungi. Jika punya waktu banyak dan dana cukup sebaiknya mampir juga lah kek kota-kota lainnya yang pasti tidak kaalah bagus. TTYL :)
             

5 comments:

Vitri Manar said...

Cool.. Im going to Marrakech tomorrow.. Salam kenal ya mbak :)

Vitri Manar said...

Cool.. Im going to Marrakech tomorrow.. Salam kenal ya mbak :)

Aishah said...

Nivee

Indah Yuliasih said...

Untuk pemakaian baju di marrakech apakah boleh pakai lengan pendek dan rok pendek selutut ? Karena saya tidak berhijab

Indah Yuliasih said...

Untuk pemakaian baju di marrakech apakah boleh pakai lengan pendek dan rok pendek selutut ? Karena saya tidak berhijab